Suarautara.com, Situbondo – Nyaris sebulan sudah, bencana alam bertubi-tubi melanda kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Warga terdampak pun bertubi duka.
Mulai dari bencana alam berupa longsor, angin kencang, puting beliung yang banyak menumbangkan pepohonan, hingga banjir menelan dua korban yang baru saja terjadi di kecamatan Jatibanteng.
Berdasarkan informasi dari Tim pusat pengendalian dan operasional badan pengendalian bencana daerah (Pusdalops BPBD) kabupaten Situbondo menyebutkan bahwa peristiwa
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
2 oang hanyut itu terjadi pada hari Sabtu sore, tanggal 7 Maret 2026 sekitar pukul 17.00 WIB.
Adapun dua nama orang yang terhanyut banjir aliran sungai Basean tersebut adalah Jaelani (53 th) yang beralamat di dusun Krajan, RT 02/ RW 02, desa Sumberar, Kecamatan Jatibanteng. Selain itu ada juga Tohari (44 th) warga desa Patemon, Jatibanteng.
Menurut informasi dari kepala dusun Krajan , Muhammad, pada tanggal 7 Maret 2026 sekitar pukul 12.00 wib korban atas nama Jaelani, umur 53 th bersama anaknya bernama Mahfud umur 24 tahun sedang panen jagung milik orang.
Saat di ladang, putranya disuruh pulang dahulu, sedangkan korban masih mencari rumput di pinggir sungai. Ditunggu sampai malam hari korban belum kembali. Sekitar 17.00 wib debit aliran sungai Basean deras dan tinggi.
Saat itu korban meletakkan rumput, dan hendak pulang dengan menyebrang melewati irigasi persawahan ke lokasi awal. Karena sungai di hulu jebol, area persawahan terendam air dan membuat aliran anak sungai sungai.
Keesokan harinya hari Minggu tanggal 8 Maret 2026 pukul 07.00 wib pihak keluarga melaporkan ke Polsek, Desa dan Kecamatan setempat atas kejadian hilangnya korban. sambil lalu keluarga korban melakukan pencarian di sungai Basean dusun Gudang desa Sumberanyar. Sekitar pukul 07.00 wib ditemukan celana training hitam nyangkut di batu dengan jarak 200 meter dari TKP (Tempat Kejadian Perkara) penyebrangan korban. Sekitar 200 meter dari penemuan celana training ditemukan sebilah celurit dan jarak dari clurit ke sandal 50 meter 1 sandal.
Selanjutnya barang tersebut dibawa pulang oleh putranya untuk memastikan bahwa barang tersebut milik korban, ternyata istrinya membenarkan bahwa barang tersebut milik korban.
Berdasarkan kronologi kejadian,
menurut informasi dari Kepala Desa Patemon dan salah satu warga, Sodiqin. tanggal 17 Maret 2026, sekitar 16.30 wib korban atas nama Tohari, umur 44 tahun selesai mencari rumput, korban berdiri di pinggir aliran sungai batu putih desa Patemon yang hendak mencoba untuk menyebrangi sungai.
Sontak tetangga yang melihatnya memanggil dan mengingatkan bahwa debit air sungai mulai deras. Saksi terus menghalangi korban untuk tidak menyebrang sungai. Tidak berapa lama setelah dipanggil korban sudah terlihat. Setelah ditengok hanya ada tumpukan rumput dan clurit.
Atas kejadian tersebut warga melaporkan ke Kepala Desa Patemon dan menceritakan kronologinya. Dan hingga berita ini ditulis, korban belum ditemukan.
Sementara itu, rencana dan tindak lanjut yang dilakukan oleh tim gabungan yaitu melakukan koordinasi dengan Tim Basarnas wilayah Pos SAR Jember, Kantor SAR Banyuwangi, Tagana, Koramil, Polsek, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa dan Relawan untuk melakukan pencarian (SAR Gabungan).
Adapun langkah-langkah dan upaya penanganan kejadian orang hanyut yang dilakukan anggota Pusdalops & TRC ( Tim Reaksi Cepat ) BPBD Kabupaten Situbondo yakni meninjau atau mendatangi lokasi kejadian,
mlakukan koordinasi dengan kecamatan, koramil, Polsek, Agen Informasi Bencana Jatim, Pemdes/Kelurahan setempat dan Relawan, melakukan Assesment / Kaji cepat di lokasi kejadian, serta memberi himbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman atau potensi terjadinya bencana, mengingat cuaca Ekstrem angin kencang dan hujan intensitas lebat sering terjadi di wilayah Kabupaten Situbondo.
























