Oleh : Rastono Sumardi (Satupena Sulawesi Tengah)
Indonesia sering kali kita gambarkan sebagai “zamrud khatulistiwa,” sebuah metafora keindahan yang membuai. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke bawah permukaan estetika tersebut, kita akan menemukan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak dibangun di atas fondasi pemandangan alam, melainkan di atas batu karang karakter manusia-manusianya. Hari ini, saat kita berbicara tentang Indonesia yang maju, beradab, dan mandiri, kita sebenarnya sedang membicarakan sebuah pertarungan nilai: antara Cinta Tanah Air yang substantif melawan Cinta Tanah Air yang sekadar seremoni.
Romantisme Sejarah dan Jebakan Nostalgia
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara naratif, sejarah kita adalah epos tentang keberanian. Kita bangga menceritakan bagaimana bambu runcing mengalahkan senapan, atau bagaimana Sumpah Pemuda menyatukan ribuan dialek menjadi satu lidah. Namun, ada argumen krusial yang sering terlupakan: para pendiri bangsa tidak hanya mencintai tanah air dengan perasaan, tapi dengan integritas intelektual dan moral.
Mereka berdebat hebat di ruang sidang, namun tetap satu dalam visi. Mereka rela melepaskan ego kelompok demi sebuah kata “Indonesia.” Tantangan hari ini adalah kita sering terjebak dalam romantisme sejarah—merasa sudah nasionalis hanya dengan mengunggah foto bendera di media sosial—sementara praktik keseharian kita justru menggerogoti tiang-tiang negara melalui ketidakjujuran dan sikap masa bodoh.
Realita yang Kontradiktif
Kondisi terkini Indonesia menyajikan paradoks yang tajam. Di satu sisi, kita melihat kemajuan infrastruktur yang megah—tol yang membelah pulau dan kereta cepat yang melaju. Namun di sisi lain, integritas publik kita sering kali berada di titik nadir. Korupsi yang sistemik bukan sekadar angka kerugian negara; ia adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap cinta tanah air.
Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai tanah airnya jika ia mencuri hak-hak rakyatnya sendiri? Di sinilah argumen utamanya: Tanpa integritas, nasionalisme hanyalah topeng bagi oportunisme. Kemandirian bangsa mustahil tercapai jika mentalitas “instan” dan “cari selamat sendiri” masih lebih dominan daripada semangat gotong royong yang berkeadilan.
Menggugat Peran Pemerintah: Dari Narasi ke Aksi
Pemerintah tidak boleh hanya menjadi “EO” (Event Organizer) yang merayakan seremoni kebangsaan. Pemerintah harus menjadi arsitek peradaban. Ada beberapa langkah argumentatif yang harus diambil secara radikal:
- Dekonstruksi Sistem Birokrasi: Pemerintah perlu membangun sistem yang “memaksa” orang untuk jujur. Digitalisasi pelayanan publik bukan sekadar tren teknologi, melainkan upaya memutus rantai pungli dan transaksi di bawah meja yang merusak martabat bangsa.
- Pendidikan sebagai Laboratorium Karakter: Pendidikan kita terlalu lama berfokus pada kecerdasan angka (IQ) namun mengabaikan kecerdasan moral. Pemerintah harus berani merombak kurikulum agar sekolah menjadi tempat di mana kejujuran lebih dihargai daripada sekadar nilai ujian yang sempurna hasil menyontek.
- Kedaulatan yang Berwibawa: Kemandirian bukan berarti menutup diri dari dunia (isolasionis), melainkan memiliki daya tawar. Pemerintah harus bertindak tegas dalam melindungi aset strategis dan sumber daya alam demi kesejahteraan domestik, sebagai manifestasi tertinggi dari cinta tanah air.
Epilog: Memilih Jalan Menuju Adab
Indonesia yang maju bukan hanya tentang angka PDB yang tinggi, tapi tentang masyarakat yang merasa aman karena hukum tegak lurus. Indonesia yang beradab adalah saat perbedaan pendapat tidak berujung pada makian, melainkan pada solusi. Dan Indonesia yang mandiri adalah saat kita berhenti meminjam harga diri dari bangsa lain.
Cinta tanah air tanpa integritas adalah omong kosong. Integritas tanpa cinta tanah air adalah robotika. Keduanya harus menyatu dalam laku hidup setiap warga negara, dimulai dari jajaran pembuat kebijakan hingga rakyat jelata di pelosok desa. Hanya dengan cara itulah, Indonesia bukan lagi sekadar nama di atas peta, melainkan sebuah rumah yang megah, jujur, dan berdaulat.
Luwuk, 5/1/2025






















