/1/
HUJAN YANG MEMBAWA PUNGGUNG MALAM
Puisi: Leni Marlina
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Malam berjalan pincang
ketika hujan bersandar di punggungnya.
Langit tampak seperti lelaki renta
yang memanggul rahasia
yang tak pernah selesai ia ucapkan.
Lalu hujan menunduk,
tetes demi tetes—
bagai seorang ibu
yang merapikan isak
agar dunia tetap tertidur.
Pada kota yang menutup suara,
jalanan hanya memegang napasnya.
Aku berdiri di sebuah perempatan,
melihat hujan merontokkan jam-jam retak,
menyusun kembali waktu
di permukaan air
yang memantulkan wajahku
lebih jujur dari bayanganku sendiri.
Di tengah riuh yang jatuh,
ada suara kecil memanggilku:
“Jangan takut pada gelap.
Aku meminjamkan tubuhku
agar kesunyian tak memakanmu.”
Malam pun mengakui
bahwa hujan adalah sahabat yang paling setia,
dan hujan mengerti
bahwa duka mampu menyalakan lentera
di ruang yang tak pernah ia sentuh sebelumnya.
/2/
HUJAN YANG BELAJAR MENANGIS
Puisi: Leni Marlina
Hujan turun dengan langkah yang gemetar—
seperti seorang anak
yang baru memahami bedanya
antara luka dan rindu.
Ia mengetuk jendela rumahku,
memohon izin membuka ingatan
yang selama ini kuselipkan
di balik kain sunyi.
“Aku tak membawa duka,”
bisiknya pada daun kamboja
yang bergetar ditiup angin pucat.
“Aku hanya membawa salam
dari langit yang kesepian.”
Tetes-tetesnya tumbuh tua di udara,
menjadi mata kecil
yang menatap masa lalu
yang pernah kuabaikan.
Ketika hujan berhenti menangis,
ia menoleh padaku
dengan wajah yang luluh.
“Lihatlah,” katanya,
“duka bisa kembali
tanpa mengganggu apa pun.”
Dan barulah aku mengerti:
kadang hujan tak turun untuk membasahi bumi,
melainkan untuk menyembuhkan
debaran yang ia simpan sendiri.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/3/
HUJAN YANG MENETESKAN KENANGAN
Puisi: Edi S. Febri
Salahkah aku jika tetap memaki hujan karena terbakar api rindu?
Hujan tak sekedar tetes air dari awan
Tapi dia juga bercerita
Tentang rembulan
Tentang lautan
Tentang padang ilalang
Tentang pertemuan yang berakhir menyakitkan
Semua ingin menyatu
Menjadi puisi pada deret aksara dari masa lalu
Dulu
Kita pernah menerobos hujan saat rembang petang
Bergandeng tangan
Sesekali memeluk mencari kehangatan
Lalu tertawa bersama
rambutmu basah
menetes bulir air
hembus angin birukan jemari
Hujan masih membawa cerita itu
Meski badai ingin menghapus
Selalu ada jalan untuk kembali mengingatmu
Hari ini
Aku masih menunggu
Berharap hujan meluruh
Berbagi penantian
Sekedar memadamkan rindu
GRS, Jateng, 5 September 2025
/4/
HUJAN ENGGAN TERJEDA
Masih ada hujan dimusim yang terik ini
Entah untuk isyarat apa
Tanpa tanda
Awan tiba-tiba meluruh
Basahi dedaunan
Gigilkan semesta
Hujan belum ingin berhenti
Masih ada yang dicari
Meski hanya sebatas imaji dalam selimut mimpi
ada yang hilang
ada yang ingin dikenang
Hujan tak sekedar menyapa
Geriap tetesnya terasa lama
Tanpa jeda
Tertawa
Seolah lupa
Kemarau terluka
bisik suara angin
memeluk malam yang semakin dingin
Pada September
Hujan mengurai arti
Musim belum berganti
GRS, Jateng,
9 September 2025

Tentang Penyair: Edi S. Febri
INDONESIA (PPIPM-Indonesia: Indonesian Poetry Reading & Writing Society, PPIC: Poetry Pen International Community)
Edi S. Febri lahir di Batang, Jawa Tengah, pada 6 Februari. Ia mulai menulis sejak tahun-tahun awal di bangku SMP dan sejak itu memupuk kesetiaan seumur hidup pada dunia puisi. Hingga kini, ia telah menulis ribuan puisi yang tersebar dalam ratusan antologi bersama, serta dalam buku kumpulan puisinya sendiri, METAMORPHOSIS (Anara, 2021).
Selain menulis puisi, Edi juga menulis cerpen, meski tidak seproduktif penulisan puisinya. Pada Maret 2025, ia menerbitkan novel perdananya, Nyanyian Pucuk Cemara, yang menandai tonggak penting dalam kiprahnya di bidang prosa.
Hujan, senja, dan pohon flamboyan menjadi sumber ilham yang tak pernah padam bagi Edi—hadir berulang dalam banyak karyanya. Gaya puisinya ditandai oleh kejernihan dan keterbacaan, sering memanfaatkan spasi yang tidak lazim, bait-bait yang tak beraturan, serta kata-kata yang dicetak miring, menjadikannya berbeda dari banyak penulis lain.
Saat ini, Edi S. Febri bermukim di Batang, Jawa Tengah, dan bekerja sebagai jurnalis—memadukan kecintaannya pada kata-kata dengan kehidupan profesionalnya secara selaras
/5/
DI DALAM HUJAN ADA SESEORANG YANG TAK KUKENAL
Puisi: Leni Marlina
Awalnya kukira hujan hanyalah air.
Ternyata ia membawa seseorang.
Bayangannya tipis,
menggigil di balik tirai tetes
yang jatuh tanpa jeda,
seolah mengungkapkan sesuatu
yang tak sanggup ia katakan.
“Hati siapa yang kau cari?”
tanyaku pelan.
Ia tersenyum remang—
seseorang yang menyembunyikan
retak-retaknya sendiri.
“Aku mencari diriku,” katanya,
“tetapi langkahku
selalu tersesat
di kenangan orang lain.”
Pada genangan yang memantul,
kulihat matanya kabur oleh jarak:
tatapan pejalan jauh
yang kehilangan rumah
di dalam dirinya.
Saat hujan mengendur,
ia pun memudar perlahan.
Yang tersisa hanyalah aroma tanah basah—
pengingat yang lembut
bahwa siapa pun bisa hilang
dari dirinya sendiri.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
/6/
PAGI YANG MEKAR SETELAH HUJAN
Puisi: Leni Marlina
Pagi datang dengan luka terbuka.
Ada sobekan di perut langit
yang belum ditutup malam.
Hujan turun perlahan,
membawa jarum cahaya
dan benang dingin
yang ia pungut dari kabut paling tipis.
Dengan gerakan setia,
ia menjahit langit
seperti perawat tabah
yang mengembalikan napas
kepada dunia yang letih.
Jahitan-jahitan itu mendesis lembut—
suara yang hanya didengar
oleh hati yang masih percaya
bahwa harapan tidak pernah mati.
Ketika langit rapat kembali,
hujan menaruh tetes terakhir
di ujung daun lontar:
bulir kecil yang menggigil,
menunggu matahari
untuk memberinya nama baru.
Pagi pun mekar pelan,
seakan tahu
bahwa sembuh
selalu datang perlahan—
turun sedikit demi sedikit
dari langit yang belajar
menerima dirinya sendiri.
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
————

Tentang Penulis: Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, PIPF)
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).
Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.
Karya-karya terbarunya meliputi “The Beloved Teachers” (2025), “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi “English Stories for Literacy” (2024-2025)—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.
Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan merenung secara berkelanjutan.
Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
Tahun 2025, Leni ditunjuk dan dipercayakqn sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng Internatioanl Literary Association (ACC SHILA), sekaligus the ASEAN Directors for ACC SHILA Poets. Di tahun yang sama, Leni ditunjuk dan dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) Januari-Februari 2026 di India. (www.panoramafestival.org).
























