Dari Buku Antologi Puisi Melukis Pelangi di Bumi Banggai
1/5. Nasib Guru Honorer
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Oleh : Rastono Sumardi
Di ujung desa yang lupa dijamah waktu,
seorang guru renta menuliskan ilmu di udara,
huruf-huruf melayang bagai asap dupa,
hilang sebelum sempat dihirup anak-anak bangsa.
Ia mengajar dengan cahaya matanya,
sebab kapur telah habis dimakan angin,
sebab bukunya hanyalah lembar-lembar doa,
yang dilipat rapi dalam genggaman sunyi.
Gajinya setipis embun di ujung daun,
jatuh sebelum sempat membasahi tanah,
tapi hatinya tetap mengakar,
setia mengajar meski perutnya berbincang dengan lapar.
Di dinding sekolah yang nyaris roboh, ia menggantung harapan dengan paku-paku sabar,
meski malam menggigitnya dengan gigil,
meski janji hanya sebaris bayang di kaca buram.
Anak-anak pergi,
menjadi tuan, menjadi raja, tapi ia tetap
di sini,
menjadi sebatang lilin yang melawan malam,
membakar diri agar dunia tetap terang.
Oh, guru honorer,
engkau bukan sekadar nama di selembar kertas,
engkau adalah puisi yang ditulis Tuhan,
dengan tinta air mata dan kesetiaan tanpa batas.
Luwuk, 02/02/2025
2/5. Guru Pelita yang Tak Padam
Oleh : Eka Suparti
Pagi datang mengetuk jendela kelas,
mentari tersenyum menatap langkah yang tegas.
Papan tulis pun berseru riang,
“Lihatlah, ia datang membawa terang!”
Buku-buku membuka halaman dengan bangga,
menyambut suara lembut yang penuh makna.
Pulpen di tangan pun berbisik pelan,
“Ilmu hari ini akan tumbuh di pikiran.”
Ia bukan pahlawan dengan pedang dan tameng,
tapi setiap kata-katanya adalah senjata yang membening.
Melawan gelapnya kebodohan dan ketidaktahuan,
dengan sabar, dengan kasih, tanpa imbalan.
Langit pun tahu lelahnya,
menyusun harapan dari kata demi kata.
Namun ia tetap tersenyum meski peluh menetes,
karena hatinya tak pernah lepas dari proses.
Terkadang, dinding kelas mendengar tangis,
bukan karena marah, tapi karena tulus yang manis.
Tangan-tangan kecil yang dulu tak paham,
kini perlahan tumbuh, perlahan menjadi terang.
Wahai guru, pahlawan pendidikan sejati,
engkau menanam mimpi di taman hati.
Walau tak selalu diberi pujian,
namamu abadi dalam setiap pencapaian.
Batui, 13/082025
SMP Negeri 1 Batui
3/5. Pelita Zaman yang Terus Menyala
Oleh : Elsya Fatricindy Wongkar
Di masa lalu, guru mengajar di bawah langit,
Di bangku kayu dan papan tulis yang sedikit,
Dengan kapur dan suara lantang penuh harap,
Ilmu ditanamkan walau dalam serba terbatas.
Kini layar menyala menggantikan buku,
Internet jadi jendela dunia yang terbuka,
Anak-anak menulis dengan jari di layar kaca,
Teknologi menyatu dalam langkah belajar mereka.
Pendidikan tak lagi terikat ruang dan waktu,
Belajar bisa di rumah, di taman, bahkan di angkasa biru,
Namun nilai-nilai tak boleh lekang—
Hormat, tekun, dan semangat juang.
Perkembangan zaman bukan penghalang,
Tapi jembatan untuk melangkah lebih terang,
Dengan ilmu yang terus dikembangkan,
Anak bangsa menatap masa depan penuh harapan.
Wahai guru, wahai pelajar zaman baru,
Jangan lelah berjalan meski jalurmu berubah,
Karena pendidikan adalah pelita yang menyala,
Menerangi zaman, membentuk jiwa dan bangsa.
Luwuk, 01/08/2025
SD Negeri 4 Luwuk
4/5. Lilin di Dalam Dada
Oleh : Ridayati
Di ruang sunyi,
ada cahaya kecil menyala—
bukan dari buku,
bukan dari angka,
tapi dari hati yang belajar jujur
pada dirinya sendiri.
Pendidikan bukan sekadar hafalan kata,
ia adalah cermin
yang memantulkan siapa kita saat tak ada yang melihat.
Guruku berkata,
“Nilai terbaik adalah yang tak tertulis di rapor,
melainkan yang berakar di jiwa.”
Kejujuran, kesabaran, rasa hormat—
itulah pelajaran yang tak lekang,
meski lembar ujian telah usang.
Karakter tumbuh pelan,
seperti pohon yang sabar menunggu hujan,
dan setiap luka yang pernah kita alami
menjadi pupuk yang diam-diam menguatkan.
Maka, biarlah kita belajar
menjadi manusia sebelum menjadi apa pun yang lain,
karena dunia tak hanya butuh orang pintar—
dunia butuh hati yang benar.
dibacakan oleh Rastono Sumardi:
Toili, 12 Agustus 2025
KB Puspa Indah Benteng
5/5. Di Tanganmu, Masa Depan Menulis
Oleh : Samsun Huda
Pendidikan,
dirimu bukan sekedar ruang kelas dan jadwal pelajaran,
kau adalah napas panjang bangsa
yang ingin berdiri tegak di panggung dunia.
Tapi aku tahu,
kau sering berjalan tertatih,
di lorong-lorong sekolah yang bocor,
di buku-buku usang yang tak lagi bicara zaman,
di wajah guru yang lelah
menyulap semangat dari gaji yang tak cukup.
Namun kau tak menyerah.
Kau tetap bangun pagi,
menyapa anak-anak dengan senyum,
meski kantin tak buka,
meski listrik kadang lupa menyala.
Kami bermimpi,
tentang pendidikan yang tak hanya mengajar,
tapi membebaskan.
Yang tak hanya memberi soal,
tapi juga memberi makna.
Yang tak hanya mencetak nilai,
tapi juga membentuk nurani.
Kami ingin sekolah yang berdialog dengan masa depan,
bukan yang tertinggal di masa lalu.
Kami ingin guru yang didengar,
bukan hanya disuruh patuh.
Kami ingin anak-anak yang berani berpikir,
bukan hanya takut salah.
Pendidikan,
jadilah taman yang merawat semua benih,
tanpa membandingkan warna daun.
Jadilah jembatan yang kokoh,
antara mimpi dan kenyataan.
Jadilah lentera,
yang tak padam meski badai zaman datang.
Dan kelak,
di tangan anak-anakmu yang kau tempa,
masa depan akan menulis cerita baru:
tentang bangsa yang tak hanya pintar,
tapi juga adil,
tentang negeri yang tak hanya maju,
tapi juga bermartabat.
Moilong, 15 Agustus 2025
SMP Negeri 4 Toili






















