CERPEN : SEBELUM GELAP MENGAMBILKU

Sabtu, 22 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Rastono Sumardi

Diadaptasi dari Puisi Esai Denny JA: “Jangan Bully Aku, Karena Aku Bisa Buat Bom”

Banu tidak pernah meminta untuk menjadi terlihat. Sebaliknya, ia menghabiskan separuh hidupnya di SMA itu mencoba menjadi transparan. Seperti mantel lusuh yang tergantung di kapstok tua, ia ada, tapi tak pernah benar-benar dianggap ada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di kelas, ia memilih kursi paling belakang, di sudut yang paling jarang tersentuh matahari. Ia adalah bayangan yang takut pada cahaya. Ia belajar menunduk begitu dalam, berharap dunia lupa bahwa ia bernapas.

Namun, dunia—atau tepatnya, teman-teman sekelasnya—tidak pernah lupa untuk menyakitinya.

Brak!

Mejanya kembali ditendang. Getarannya merambat sampai ke dada. Banu tidak menoleh. Ia tahu siapa pelakunya tanpa perlu melihat seringai di wajah mereka.

“Woi, Sampah! Masih idup lo?”

“Cupu!” “Banci!”

Kata-kata itu bukan sekadar gelombang suara. Bagi Banu, mereka adalah pisau silet yang tak kasat mata. Mengiris perlahan, setiap hari, di tempat yang sama. Hatinya sudah seperti kain perca yang robek di sana-sini, tak lagi utuh.

Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, Banu menyeret langkah pulang. Tubuhnya utuh, tak ada memar biru di lengan. Tapi di dalam, ia adalah cermin yang pecah berkeping-keping.

Rumah itu besar, tapi udaranya tipis.

Begitu Banu membuka pintu, kesunyian menyergapnya seperti hantu. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada suara televisi. Tidak ada sapaan, “Gimana sekolahmu, Nak?”

Rumahnya adalah sebuah gua yang sepi. Atau lebih tepatnya, seperti akuarium kosong yang airnya sudah dikuras habis. Benda-benda ada di sana—sofa, meja makan, foto keluarga yang mulai berdebu—tapi kehidupan tak lagi berenang di dalamnya.

Ayah? Banu bahkan sudah lupa kapan terakhir kali nama itu disebut di rumah ini. Ayah adalah nama yang hilang, entah di koordinat mana.

Dan Ibu…

Banu mengeluarkan ponselnya. Satu-satunya teman setianya, kunang-kunang elektronik yang tak pernah benar-benar menghangatkan. Ia menggulir layar, menatap pesan suara terakhir dari delapan bulan lalu. Delapan bulan.

“Maaf ya, Nak… Ibu lembur lagi. Jaga diri baik-baik.”

Suara itu terdengar lelah, berdesis di antara sinyal jelajah internasional entah dari Hong Kong atau Qatar. Ibu jauh sekali. Bukan hanya jarak geografis, tapi jarak rasa. Banu rindu dipeluk, tapi ia hanya bisa memeluk lututnya sendiri di sudut kamar yang gelap.

Malam itu, kesepian menggumpal menjadi kabut tebal yang mencekik lehernya. Banu merasa tenggelam. Dalam keputusasaan mencari pegangan, jemarinya menari di atas layar ponsel, membawanya masuk ke sebuah lorong digital yang asing: True Crime Community.

Awalnya, ia hanya membaca.

Di sana, di ruang obrolan yang gelap itu, ia menemukan anak-anak lain yang “cacat” sepertinya. Mereka yang dibuang, mereka yang diinjak, mereka yang marah.

“Dunia ini busuk,” tulis satu akun anonim. “Mereka menindas kita karena kita diam,” balas yang lain.

Semakin Banu membaca, semakin ia merasa diterima. Dadanya yang hampa perlahan terisi, bukan oleh kasih sayang, tapi oleh gema amarah orang-orang asing. Kata-kata mereka menjadi kawat berduri yang melilit logikanya.

Lalu, sebuah pesan pribadi masuk. Seseorang meyakinkannya dengan kalimat yang menyala seperti fosfor di kegelapan:

“Jika tak ada yang menghargaimu, Banu… buat mereka berhenti. Buat mereka melihatmu.”

Kalimat itu menjadi korek api kecil yang dilempar ke dalam jiwanya—sebuah ruangan penuh bensin yang sudah lama menguap. Banu tidak merasa jahat. Ia hanya merasa… akhirnya ada jalan keluar.

Hari itu Jumat. Matahari bersinar terik, kontras dengan mendung yang menggelayut di mata Banu.

Usai salat Jumat di masjid sekolah, halaman ramai oleh tawa remaja. Keceriaan mereka mengalir seperti sungai kecil yang jernih. Tapi Banu berdiri di tengah arus itu sebagai batu karang yang retak.

Tangannya gemetar di dalam saku jaket. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

Ia ingin berteriak. Demi Tuhan, ia hanya ingin berteriak: “Jangan bully aku lagi! Lihat aku! Aku manusia!”

Tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanyalah burung kecil yang tersangkut jaring raksasa. Ia tak punya suara. Ia hanya punya… benda itu.

Dan waktu pun pecah.

DUAAARRRR!!!

Ledakan itu merobek langit siang. Bukan seperti di film-film laga yang gagah. Itu adalah bunyi keputusasaan yang meledak. Puing cahaya menghantam udara.

Jeritan. Debu mengepul. Batu-batu genteng berjatuhan seperti hujan meteor.

Banu terlempar. Tubuhnya menghantam tanah keras. Telinganya berdengung hebat, ngiing panjang yang menyakitkan.

Ia terbaring di sana, di antara debu dan kekacauan yang ia ciptakan. Apakah ia merasa menang? Apakah ia merasa gagah seperti yang dijanjikan teman-teman mayanya?

Tidak.

Keberanian tak tumbuh di dadanya. Yang tumbuh justru lubang kekosongan yang lebih menganga lebar. Perih. Pedih. Hampa. Ia menyadari, ledakan itu tidak mengisi jiwanya, justru menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan yang ia miliki.

Banu membuka mata.

Cahaya putih menyilaukan. Bau obat-obatan menusuk hidung. Ruangan itu dingin, seperti salju yang tak pernah meleleh.

Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya kaku. Infus menancap di lengannya, mengalirkan cairan kehidupan ke tubuh yang sebenarnya sudah lama mati rasanya. Hatinya tetaplah padang tandus, tak ada rumput yang bisa tumbuh di sana.

Sepi kembali datang. Kali ini lebih mencekam dari sepi di rumahnya.

Banu memejamkan mata perlahan. Di balik kelopak matanya yang berat, bayangan wajah itu muncul. Wajah yang ia rindu setengah mati.

“Ibu… Ibu…”

Suara itu hanya terdengar lirih di dalam rongga dadanya yang sesak.

Satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya, menelusuri pipi, lalu jatuh ke bantal rumah sakit. Itu bukan air mata karena luka ledakan. Itu bukan air mata ketakutan akan penjara.

Itu adalah air mata penyesalan seorang anak kecil yang kesepian.

Mulutnya bergerak pelan, membisikkan satu kalimat yang tak pernah sempat ia sampaikan pada dunia, pada ayahnya, pada gurunya, pada teman-temannya… dan pada ibunya.

“Bu… kalau saja ada yang memelukku… sebelum gelap mengambilku.”

Banu kembali terpejam. Ia bukan monster. Ia bukan teroris.

Ia hanyalah percikan kecil yang terpaksa menyala dan membakar dirinya sendiri, karena dunia lupa memberinya hujan kasih sayang.

Ia hanyalah seorang remaja yang rapuh, ketika cinta di rumah hilang, dan kasih di sekolah tak pernah datang.

Berita Terkait

Puisi Anies Septivirawan: “Indonesia Raya dan Mercusuar Perdamaian Dunia”
Tahap Akhir Seleksi JPTP Banggai Wabup Furqanuddin Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Teladan
Mahasiswa IPB Survei Mangrove di Desa Masing Kades Satuwo Andy Tahang Dorong Wisata dan Pelestarian Lingkungan
UNDANGAN DISKUSI: RERASAN SASTRA, Kolaborasi Hangat dari Berbagai Simpul Kreatif
Disdikbid Banggai Bersama PT Panca Amara Utama Perkuat Pendidikan serta Kesehatan dan Pemberdayaan Desa
Hut ke 62 Sulteng Wabup Banggai Furqanuddin Berikan Komitmen Perkuat Sinergi Provinsi dan Daerah
Resmikan Desa Persiapan Mekar Mulya Bupati Amirudin Tekankan Agar Pemerataan Pelayanan
Bupati Banggai Amirudin Langsung Jemput MenDes PDT Yandri Susanto di Bandara SAA

Berita Terkait

Minggu, 26 April 2026 - 20:46 WITA

Puisi Anies Septivirawan: “Indonesia Raya dan Mercusuar Perdamaian Dunia”

Sabtu, 25 April 2026 - 12:28 WITA

Tahap Akhir Seleksi JPTP Banggai Wabup Furqanuddin Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Teladan

Jumat, 17 April 2026 - 22:55 WITA

Mahasiswa IPB Survei Mangrove di Desa Masing Kades Satuwo Andy Tahang Dorong Wisata dan Pelestarian Lingkungan

Kamis, 16 April 2026 - 13:51 WITA

UNDANGAN DISKUSI: RERASAN SASTRA, Kolaborasi Hangat dari Berbagai Simpul Kreatif

Senin, 13 April 2026 - 22:02 WITA

Disdikbid Banggai Bersama PT Panca Amara Utama Perkuat Pendidikan serta Kesehatan dan Pemberdayaan Desa

Berita Terbaru