Oleh : Rastono Sumardi
I. Akar yang Menancap, Hati yang Teguh
Di rimba sunyi, jiwa mencari arah,
angin badai menderu, ujian tak kenal lelah.
Namun di dada, keteguhan diam-diam menyala—
bukan baja yang beku, melainkan api yang menjaga.
Ia menjadi jangkar saat gelombang mendaki,
bukan keras kepala, tapi teguh memegang janji.
Hati yang kukuh adalah pondasi diri,
tak runtuh oleh sepi, tak retak oleh caci.
Walau langkah berat, pandangan tetap menyorot depan,
sebab tahu: badai hanyalah jembatan menuju harapan.
II. Memahami Pelita di Jantung Sendiri
Sebelum menempuh jauh, cermin batin harus dijelajah,
mencari peta diri—tempat potensi tumbuh dan bersuara.
Bukan meniru bayangan, bukan mengejar fatamorgana,
tetapi menatap jujur: segala bakat, retak, dan cahaya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Memahami diri adalah kunci paling rahasia:
mengenali kekuatan, merangkul kelemahan.
Ada permata di dasar hati, tersembunyi dalam lumpur,
menunggu disentuh, diasah, hingga memantulkan masa depan.
Sebab diri adalah semesta, lengkap dengan bintang dan kabut—
dan tiap bagian layak diterima, tanpa takut.
III. Buah Emas dari Pohon Keteguhan
Lihatlah, di ujung perjalanan, sukses menunggu tanpa tergesa—
bukan hadiah yang jatuh dari langit,
bukan warisan yang dibebankan dunia.
Ia adalah mahkota dari hari-hari gigih,
buah matang dari hati yang tak pernah menyerah.
Setiap keringat menjadi pupuk,
setiap jatuh menjadi anak tangga.
Puncak dicapai bukan dengan berlari,
melainkan dengan langkah yang setia.
Sukses sejati bukan sebatas nama dan harta,
melainkan damai di dada
karena telah berjalan sesuai takdir dan asa.
Dan di puncak itu, engkau menoleh pada jejak berliku—
lalu tersenyum, penuh syukur,
sebab setiap luka pernah menjadi pelita yang menuntunmu.
Luwuk, 19/11/2025






















