Oleh : Rastono Sumardi
Di bawah langit biru yang tenang,
Banggai berdiri gagah menatap laut.
Namun di perut bumi yang dalam,
Ada rahasia — denyut gempa yang tak pernah padam.
Bumi bergetar, tanda alam berbicara,
Anak-anak berlari menuju lapangan,
Ibu memanggul tas siaga bencana,
Ayah memastikan jalan evakuasi terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jangan panik, tetap waspada,
Matikan listrik, lindungi kepala.
Keluar dari rumah, jauhi tebing dan pantai,
Ingat pesan guru: “Keselamatan selalu di depan.”
Kami belajar dari Palu — luka yang tak terlupa,
Ketika laut bergulung membawa duka.
Tsunami datang tanpa ampun,
Meninggalkan jejak air mata di tanah yang sunyi.
Dari tragedi itu kami paham,
Bahwa kesiapsiagaan bukan pilihan, tapi keharusan.
Membangun jalur evakuasi,
Menyiapkan hati, dan saling peduli.
Banggai, tanahmu indah dan tangguh,
Kami tak ingin lengah, kami ingin siap.
Kami siaga, menghitung resiko bencana
Dengan ilmu, doa, dan cinta pada bumi ini.
Luwuk, 5 November 2025
Catatan :
Puisi ini di tulis bersamaan dengan pelaksanaan Workshop Penyusunan Rencana Kontingensi Bencana Kabupaten Banggai
di Hotel Santika Luwuk, 5 November 2025 dan kejadian gempa pada pukul 07.32 WITA
























