Alkisah, di masa lampau yang tak tercatat tahunnya, Kepulauan Banggai adalah sebuah negeri yang permai, dikelilingi lautan biru jernih dan dihiasi pulau-pulau hijau. Di salah satu pulau terbesarnya, Pulau Peleng, hiduplah sebuah keluarga sederhana. Keluarga ini diberkahi dengan tujuh orang anak laki-laki yang gagah dan berbakti. Mereka hidup dari hasil bumi dan laut, dalam harmoni dengan alam.
Namun, suatu ketika, kemarau panjang datang melanda. Langit enggan menumpahkan hujannya, tanah menjadi retak dan kering kerontang. Tumbuh-tumbuhan layu, sumber air mengering, dan lumbung-lumbung padi mulai kosong. Kelaparan mulai mencengkeram erat kehidupan masyarakat. Keluarga tujuh bersaudara itu pun tak luput dari penderitaan. Hari demi hari, mereka berbagi sedikit makanan yang tersisa, namun bayangan kelaparan semakin nyata.
Di tengah keputusasaan itu, si bungsu dari tujuh bersaudara, seorang pemuda berhati mulia dan peka, merasa hatinya teriris melihat penderitaan orang tua dan saudara-saudaranya. Setiap malam, ia berdoa memohon petunjuk kepada Sang Pencipta agar keluarganya dan masyarakatnya diselamatkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada suatu malam yang sunyi, dalam tidurnya, ia mendapatkan sebuah bisikan gaib. Suara itu begitu agung dan menenangkan, seolah berasal dari roh penjaga Pulau Peleng. Suara itu berkata, “Tanah ini merindukan pengorbanan yang tulus. Dari tubuh yang suci akan tumbuh sumber kehidupan baru yang tak akan lekang oleh panas dan tak akan habis oleh kemarau. Ia akan menjadi pusaka bagi anak cucumu.”
Terbangun dengan hati berdebar, si bungsu mengerti makna dari pesan tersebut. Dengan air mata berlinang namun dengan tekad yang bulat, ia mengumpulkan keenam kakaknya dan kedua orang tuanya.
“Ayah, Ibu, Kakak-kakakku,” ujarnya dengan suara lirih namun mantap. “Aku telah menerima wangsit untuk mengakhiri penderitaan kita. Aku harus menjadi benih bagi kehidupan baru di tanah ini. Relakanlah aku.”
Tentu saja, keluarganya menolak dengan keras. Tangis pecah, duka menyelimuti gubuk mereka. Bagaimana mungkin mereka merelakan anak dan adik terkasih mereka? Namun, si bungsu dengan sabar meyakinkan mereka bahwa pengorbanannya adalah satu-satunya jalan. Ia menjelaskan bahwa cintanya pada keluarga dan tanah kelahirannya jauh lebih besar daripada hidupnya sendiri.
Dengan berat hati, keluarga itu akhirnya merelakan. Sesuai petunjuk dalam mimpinya, si bungsu meminta untuk dikebumikan di kebun belakang rumah mereka yang paling kering. Sebelum tubuhnya ditutup tanah, ia berpesan, “Jangan tangisi jasadku. Rawatlah apa pun yang kelak tumbuh dari sini. Kelak, ia akan menjadi makanan pokok bagi seluruh Banggai. Namun, ingatlah, ia hanya akan tumbuh subur di tanah kelahiranku, di Pulau Peleng ini, sebagai tanda cintaku yang abadi.”
Keluarganya menuruti wasiat itu. Ajaibnya, beberapa waktu setelah pemakaman, dari atas pusara si bungsu, tumbuhlah sebatang tanaman merambat dengan daun-daun berbentuk hati yang hijau segar. Tanaman itu tumbuh dengan cepat, menjalar gagah seolah tak terpengaruh oleh tanah yang masih kering di sekitarnya.
Setelah beberapa bulan, keluarga itu menggali tanah di sekitar tanaman tersebut. Mereka menemukan umbi-umbian yang gemuk dan banyak. Dengan ragu, mereka merebus umbi itu. Aroma harum langsung menyebar, dan rasanya ternyata begitu lezat, gurih, dan mengenyangkan. Mereka tahu, ini adalah jelmaan dari pengorbanan si bungsu.
Kabar mengenai tanaman ajaib ini menyebar ke seluruh penjuru pulau. Keluarga itu membagikan umbi dan cara menanamnya kepada para tetangga. Benar saja, tanaman itu tumbuh subur di seluruh Pulau Peleng, menyelamatkan masyarakat dari kelaparan. Sejak saat itu, umbi tersebut dinamakan Ubi Banggai, sebuah nama yang melekat sebagai penghormatan kepada tanah tempatnya berasal. Ia menjadi makanan pokok pengganti beras, menjadi penyelamat di kala paceklik.
Makna dan Warisan Budaya
Legenda ini tidak berhenti sebagai cerita pengantar tidur. Ia menjelma menjadi napas kebudayaan masyarakat Kepulauan Banggai.
- Identitas dan Pusaka Budaya: Ubi Banggai bukan sekadar tanaman. Ia adalah simbol pengorbanan, cinta pada keluarga, dan ikatan yang tak terpisahkan antara manusia dengan tanah kelahirannya. Keistimewaannya yang hanya tumbuh subur di wilayah Banggai menegaskan bahwa ia adalah anugerah khusus untuk masyarakat di sana.
- Ritual Syukur “Sasampe”: Untuk menghormati pengorbanan si bungsu dan sebagai wujud syukur atas panen yang melimpah, masyarakat Banggai menciptakan sebuah ritual adat yang disebut “Sasampe”. Ini adalah upacara panen raya, di mana seluruh masyarakat berkumpul, memasak Ubi Banggai bersama, dan memanjatkan doa serta ucapan terima kasih kepada leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini menjadi pengingat abadi akan asal-usul makanan pokok mereka.
- Nilai Gotong Royong: Proses menanam, merawat, hingga memanen Ubi Banggai seringkali dilakukan secara bersama-sama. Legenda ini menanamkan nilai kerja sama dan kebersamaan (gotong-royong), meneladani semangat keluarga tujuh bersaudara yang bersatu dalam suka dan duka.
Dari sebuah pengorbanan yang menyentuh hati, lahirlah sebuah warisan yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga mengisi jiwa dan memperkaya budaya masyarakat Banggai hingga hari ini. Setiap umbi yang mereka gali dari tanah seolah menyimpan secuil kisah cinta dan pengorbanan sang bungsu.
disusun kembali oleh Rastono Sumardi (Ketua Satupena Sulawesi Tengah)
























