Oleh : Purwandi (Kepala SDN Mumpe)
Di sudut peta yang jarang dilihat, Bukit Mumpe bernapas dalam ritme alam —
siang dihidupi matahari, malam ditelan gelap.
Rafi, pemuda bertangan kapalan, menyimpan ijazah SMK-nya di lemari,
menantang takdir desanya dengan mimpi mencuri api dari sungai.
Sementara teman-temannya memacu motor di kota,
ia memungut logam, pipa retak, dan kabel tua,
membangun harapan dari rongsokan,
karena baginya kemajuan bukan soal pergi jauh,
melainkan berani pulang dan membangun kembali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sungai adalah laboratorium alamnya.
Setiap sore ia mengukur arus dengan tali dan stopwatch butut,
merangkai PLTMH yang lebih sering batuk daripada berputar.
Namun tawa di warung kopi lebih nyaring dari suara turbin rusak,
dan bahu aparat desa hanya memberi angin hampa.
“Ibu,” bisiknya di gelap malam,
“mungkin aku hanya pemimpi naif yang salah tempat.”
Mimpi itu berkarat, seperti besi di tepi sungai,
namun arus tak berhenti mengalir —
menunggu percikan kecil dari takdir.
Percikan itu bernama Indri —
gadis Bukit Mumpe yang pulang membawa gelar dan cahaya pengetahuan.
Laptopnya bertemu kunci pas berkarat Rafi,
teorinya berpadu dengan tangan yang berdebu.
“Turbinmu harus crossflow,” katanya lembut,
“air akan memukul dua kali, efisiensi melonjak.”
Rafi tersenyum getir, “Teorimu terbang di langit, alatku merayap di tanah.”
Indri menatapnya, “Justru itu — teori butuh tanganmu untuk membumi.”
Dan di tepi sungai itu, dua dunia berpadu:
intuisi dan presisi, cinta dan cahaya.
Hari pembuktian pun tiba.
Air menderu, turbin berputar, voltmeter bergetar,
dan ketika saklar diklik — bohlam menyala.
Cahayanya putih, nyata, menampar wajah yang tak percaya.
Anak-anak menari di bawah sinar yang lahir dari tangan sendiri,
sementara air mata Rafi jatuh, bukan karena terang,
melainkan karena harga diri yang akhirnya menyala.
Indri mendekat, tersenyum seterang lampu di bambu,
“Kamu berhasil,” katanya.
“Kita,” jawab Rafi, “kita berhasil.”
Senja datang membawa warna baru ke Bukit Mumpe.
Rafi menghampiri Indri di tepi sungai,
membawa cincin kecil dari sisa kawat tembaga generator pertama mereka.
“Kabel ini konduktor pertama mimpi kita,” ucapnya lirih,
“biarlah kini ia mengalirkan sesuatu dari sini,” — ia menunjuk dadanya.
Indri tersenyum, tawa lembutnya menyatu dengan aliran air.
Sungai terus berputar, mengirimkan listrik ke rumah-rumah
dan cinta ke hati yang percaya.
Bukit Mumpe pun terang,
lahir dari percikan dua jiwa
yang membuktikan: cahaya terindah adalah yang kita nyalakan bersama.
Mumpe, 18/10/2025
























