Oleh: Rastono Sumardi
Di gerbang pagi…
mentari tersenyum cerah.
Bukan… bukan untuk menabur cemooh,
bukan pula untuk menyiram resah.
Di setiap kelas…
di setiap lorong yang sunyi,
tersimpan janji suci —
janji untuk damai… bersama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sekolah ini rumah kita!
Pilar kasih berdiri tegak,
tempat ilmu bersemi,
tempat hati berpihak!
Bukan medan perang kata,
bukan arena gertak!
Setiap jiwa… dihargai,
tanpa pandang jarak!
Namun…
di balik tawa yang kita kenal,
kadang bersembunyi bayangan hitam…
bayangan bernama perundungan.
Ia datang diam-diam,
mengukir luka di hati,
menyembunyikan air mata di balik senyum.
Kata-kata tajam…
tatapan sinis yang mengintimidasi,
mencuri senyum sahabat,
merenggut harga diri!
Cukup!
Cukup sudah luka yang tersembunyi!
Cukup sudah air mata yang disembunyikan di balik meja!
Kita semua sama…
unik dalam warna,
beda rupa, beda kisah,
tapi tiada cela… tiada noda!
Mengapa harus ada yang merasa lebih perkasa?
Padahal bersama…
kita kuat tak terhingga!
Mari genggam tangan — bukan untuk menjatuhkan!
Mari beri semangat — bukan untuk merendahkan!
Jadikan empati… pagar perlindungan!
Hentikan tawa angkuh!
Hadirkan… kehangatan!
Ini sekolah kita…
panggung mimpi dan cita-cita.
Bebas dari perundungan,
penuh cinta… penuh sapa.
Tegakkan kepala, bila kau lihat yang terluka,
bersuaralah lantang…
demi keadilan tercipta!
Sekolah bebas perundungan —
itulah harapan!
Tempat setiap murid merasa aman,
nyaman, dan tak tertekan!
Mari tumbuh bersama…
saling menguatkan ikatan,
menuju masa depan gemilang —
dalam persahabatan!
Inilah sekolah tanpa bayangan luka!
Sekolah kita… rumah bagi semua jiwa!
Luwuk, 18/10/2025
























