SuaraUtara.com | Internasional | 1 Maret 2026
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis pada Sabtu (28/2/2026) setelah terjadi aksi saling serang rudal antara Israel bersama Amerika Serikat dan Iran. Situasi mencekam dilaporkan terjadi di sejumlah kota, memicu kepanikan warga sipil serta penetapan status darurat nasional di Israel.
Sirene Meraung di Tel Aviv
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sirene serangan udara terdengar di berbagai wilayah, termasuk di jantung kota Tel Aviv dan kawasan Israel utara. Ledakan hebat dilaporkan mengguncang beberapa titik akibat upaya pencegatan rudal balistik yang diklaim diluncurkan dari Iran.
Beberapa laporan media internasional menyebutkan, sebagian rudal berhasil menembus sistem pertahanan udara dan jatuh di area permukiman. Di wilayah Holon, dilaporkan sebuah armada bus terbakar akibat dampak serpihan atau ledakan, meski rincian korban masih dalam pendataan otoritas setempat.
Pemerintah Israel langsung menetapkan keadaan darurat nasional dan meminta warga tetap berada di tempat perlindungan hingga situasi dinyatakan aman.
Rumah Sakit Siaga Penuh
Fasilitas kesehatan juga mengambil langkah cepat. Pusat Medis Sheba dilaporkan mulai memindahkan sejumlah bangsal ke fasilitas bawah tanah sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan lanjutan. Otoritas kesehatan Israel menyatakan seluruh rumah sakit berada dalam status siaga tinggi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan medis tetap berjalan jika terjadi serangan lanjutan atau lonjakan korban luka.
Serangan Pendahuluan ke Teheran
Serangan Iran disebut sebagai balasan atas “serangan pendahuluan” yang sebelumnya dilancarkan militer Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Teheran dan sejumlah lokasi strategis yang dikaitkan dengan fasilitas militer serta program nuklir Iran pada Sabtu pagi.
Pihak Iran menyatakan tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negaranya dan menegaskan akan memberikan respons tegas. Sementara itu, pejabat Israel menyebut operasi militer yang dilakukan bersama AS sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman keamanan nasional.
Dunia Internasional Serukan Deeskalasi
Eskalasi cepat dalam hitungan jam itu memicu kekhawatiran global. Sejumlah negara dan organisasi internasional menyerukan agar kedua belah pihak menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi guna mencegah konflik meluas menjadi perang regional berskala besar.
Pengamat geopolitik menilai konfrontasi terbuka ini berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah, termasuk jalur energi global dan keamanan penerbangan sipil.
Situasi Masih Berkembang
Hingga berita ini diturunkan, belum ada data resmi yang terverifikasi mengenai total korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur di kedua negara. Otoritas masing-masing masih melakukan penilaian situasi dan memperbarui informasi secara berkala.
Ketegangan yang memuncak pada 28 Februari 2026 ini menjadi salah satu eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir, dengan dunia kini menanti langkah lanjutan yang akan diambil kedua pihak.






















