SUARAUTARA,COM, SIGI – Tim Percepatan dan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten SIGI, Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar rapat koordinasi (rakor) guna melakukan optimalisasi langkah-langkah yang dilaksanakan dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten SIGI, Selasa (21/3/2023). bertempat di Sriti Convention Hall Kota Palu, Rabu, 12 April 2023.

Kepala dinas Kesehatan Kabupaten SIGI dr. Sofyan Mailili, M.Kes mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan pada penekanan terkait penguatan komitmen sampai jajaran bawah untuk benar-benar melaksanakan tugas dan fungsi dalam penanganan Stunting di Kabupaten SIGI.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

” Dengan perbaikan managemen dan sistem, diharapkan akan tercipta suatu sinergitas yang mempunyai kekuatan yang besar untuk mencapai tujuan,” tukas dr. Sofyan Mailili, M.Kes, di Palu Selasa, (12/4/2023).
Lanjut mantan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sigi itu menjelaskan, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu elemen dalam berbagai hal, salah satunya pembangunan. Dengan demikian diperlukan adanya intervensi secara serius dalam menurunkan stunting sehingga dapat menciptakan generasi yang sehat.
“Stunting ini akan memengaruhi pada kualitas SDM, jika stuntingnya sudah bisa di atasi, insyaallah orang-orang SIGI ini makin jadi hebat, apalagi seperti visi misi Bupati Sigi, kita punya target 2024 zero stunting, oleh karenanya harus terus bersinergi agar semua upaya yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati SIGI Mohamad Irwan, S.Sos, M.Si menyatakan bahwa Pemda SIGI terus melakukan langkah-langkah dalam hal penanganan Stunting agar dapat mencapai zero stunting 2024.
“ SIGI harus kita tekan terus angka prevalensi stuntingnya sehingga anak-anak kita dapat bebas dari stunting,” tutur Mohamad Irwan.
Namun demikian, Bupati Irwan menjelaskan, diperlukan upaya keras dan dilakukan secara bersama dalam menangani stunting ini dikarenakan keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan stunting ini memiliki dampak yang signifikan dalam langkah percepatannya.
Dirinya juga menerangkan, fokus sasaran terhadap pencegahan stunting harus lebih diutamakan terutama dalam memberikan edukasi terhadap ibu hamil, pasangan yang baru menikah, serta calon pengantin. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah penambahan penderita sekaligus melakukan deteksi dini potensi terjadinya stunting sehingga dapat dengan segera dilakukan tindakan intervensi.
“Langkah intervensi harus dilakukan secara sinergi oleh berbagai stakeholder terkait terutama dalam memberikan edukasi pada kelompok sasaran seperti remaja, calon pengantin, ibu hamil dan ibu menyusui guna mencegah bertambahnya kasus stunting,” tandasnya. (chan)






















