Suarautara.com, KOTAMOBAGU – Tidak lama lagi akan masuk perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan Kota Kotamobagu terindikasi mengalami penurunan stok daging babi (B2), dikarenakan adanya indikasi virus Flu Babi atau di kenal dengan Virus African Swine Fever (ASF) sejak awal tahun 2024 hingga pertengahan 2024 yang akan mempengaruhi stok dan pasokan daging Babi untuk masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kotamobagu melalui Kepala Bidang Peternakan dan kesehatan Hewan kotamobagu Bobby Damopolii mengatakan bahwa permintaan daging Babi atau B2 menjelang Natal dan Tahun Baru pasti meningkat sementara populasi babi di Kotamobagu berkurang cukup signifikan sehingga akan berdampak pada ketersedian daging babi menjelang Nataru.
“Stok B2 mengalami penurunan, dan ini bukan hanya di Kotamobagu saja, tapi juga di seluruh wilayah Sulawesi Utara,” ujar Bobbi. Guna mengatasi masalah ini, Dinas Provinsi Sulawesi Utara bekerja sama dengan pihak swasta lokal di Sulut berupaya mendatangkan ternak babi dari luar daerah (Bali), dan hal ini diharapkan dapat menstabilkan stok menjelang Nataru.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bobby Damopolii menambahkan, suspek serangan virus African Swine Fever (ASF) menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya stok B2. Banyak peternak kehilangan hewan ternak mereka akibat virus ini, dan jumlah tempat pemotongan/pedagang daging babi di Kotamobagu kini berkurang, di awal tahun 2024 empat lokasi tinggal satu yang beroperasi. Gejala ASF, seperti tubuh babi berbintik merah hingga ungu-kebiru2an, menyebar cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Di Kelurahan Tumobui, misalnya, berdasar hasil informasi peternak yg diperoleh oleh Bidang Peternakan pada salah satu peternak, sebanyak 40 ekor babi mati dalam waktu kurang dari dua minggu.
Namun, Bobby Damopolii menjelaskan meskipun ASF sangat mematikan bagi babi, belum ada bukti/temuan bahwa virus ini bisa menular ke manusia. “Tidak ada indikasi penemuan penularan ASF pada manusia seperti Penyakit Antraks pada sapi yg tergolong zoonosis” tegasnya.

Untuk menanggulangi dampak lebih lanjut, disebabkan belum adanya Vaksin untuk menanggulangi ASF, Bobby menghimbau para peternak agar melaporkan kasus penyakit pada hewan mereka, dan memperhatikan biosekuriti penanganan ternak, kandang serta pakan sebagai langkah pencegahan pertama. “keterbukaan informasi dari para peternak sangat penting agar Dinas dapat segera melakukan koordinasi dan penanganan yang tepat,” tutup Bobby.
(Alfian Wowiling)
























