BUOL, SUARAUTARA.COM – Pemerintah Kabupaten Buol memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kecamatan Paleleh Barat atas keberhasilan signifikan dalam menurunkan angka stunting dalam dua tahun terakhir. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai capaian luar biasa yang dapat menjadi contoh bagi kecamatan lain di wilayah Kabupaten Buol.
Bupati Buol Risharyudi Triwibowo mengungkapkan, data menunjukkan kasus stunting di Kecamatan Paleleh Barat turun drastis dari 54 anak pada tahun 2024 menjadi 27 anak pada 2025, dan tersisa 7 anak pada Februari 2026.
Menurut Bupati Bowo, capaian tersebut merupakan praktik baik yang perlu direplikasi secara merata. Ia bahkan meminta Sekretaris Daerah menghadirkan Camat Paleleh Barat sebagai narasumber dalam forum koordinasi lintas kecamatan agar strategi penanganan stunting dapat diterapkan di seluruh wilayah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau ada yang tidak serius menurunkan stunting harus dievaluasi, karena ini menyangkut masa depan generasi daerah,” tegasnya, saat memberikan sambutan pada kegiatan Musrembang Kecamatan Palbar, Rabu (25/2/2026).
Bupati juga menekankan pentingnya efisiensi anggaran serta optimalisasi program pembangunan daerah, termasuk intervensi gizi melalui program makan bergizi bagi anak-anak, ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya. Ia optimistis dengan kekompakan seluruh perangkat daerah, Kabupaten Buol tidak lagi berada pada posisi angka stunting tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah.
Sementara itu, Camat Paleleh Barat, Wahyudin Hi. Kadir, SE melaporkan bahwa penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem dilakukan berbasis data desil kesejahteraan sosial. Berdasarkan data Februari 2026, tercatat 403 kepala keluarga berada pada desil satu dan 544 kepala keluarga pada desil dua dan tiga.
Dalam percepatan penurunan stunting, pemerintah kecamatan juga menginisiasi program inovatif bertajuk “GENTING KELUARGA DAN ANAK” yang berfokus pada pendampingan keluarga berisiko serta pemberian intervensi langsung kepada balita. Selain itu, pemerintah kecamatan memberikan bantuan stimulan sebesar Rp10 juta kepada keluarga prioritas sebagai bentuk motivasi dalam upaya pencegahan stunting.
“Dari 17 kasus pada November 2025 kini tersisa 7 balita. Ini hasil kerja bersama seluruh desa dan tenaga pendamping,” ujarnya.**






















