Oleh : AkahaTaufan Aminudin
Hidup bukanlah tentang seberapa lama kita bernapas, tetapi tentang seberapa banyak jejak kebaikan dan karya yang kita tinggalkan untuk sesama. Peribahasa lama ini menemukan wujud nyatanya pada sosok Mas Dwikaton Singoyudo, seorang seniman, tokoh masyarakat, sekaligus pembelajar seumur hidup yang baru saja merayakan Ambal Warso (hari ulang tahun) yang ke-83 pada Jumat Pon, 23 Oktober 2026 ini.
Bertempat di kediamannya yang hangat di Jalan Abdul Rahman No. 6A, Ngaglik, Kota Batu, perayaan sederhana namun sarat makna tersebut menjadi saksi indahnya merajut tali silaturahmi di senja usia.
Akar Perjalanan dan Ketangguhan Jiwa
Lahir di Blora pada 23 Oktober 1942, Mas Dwikaton tumbuh dalam gelombang sejarah bangsa yang dinamis. Jiwa nasionalismenya telah tertempa sejak usia muda, terlihat dari keaktifannya dalam kepanduan Pandu Rakyat di Blora pada tahun 1956.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya melintasi berbagai kota dan disiplin ilmu—mulai dari Malang, Surabaya, Jakarta, hingga Bali.
Yang mengagumkan dari sosok Mas Dwikaton adalah rasa ingin tahunya yang tak pernah padam. Riwayat pendidikannya mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari pelayaran (APM Surabaya), lanskap pertamanan (AKIP Jakarta), ilmu ekonomi (UBAYA), hingga teknik sipil (UNTAG Surabaya).
Ketekunan ini membentuknya menjadi seorang profesional yang multitalenta. Dalam dunia kerja, kontribusinya terbentang luas, mulai dari perancangan lanskap hotel dan industri terkemuka di Indonesia hingga memimpin proyek-proyek pembangunan sipil dan perumahan berskala besar.
*Menyatukan Logika Teknik dan Kelembutan Seni*
Di balik ketegasannya sebagai seorang insinyur sipil dan perencana lanskap, bersemayam jiwa seorang seniman sejati. Mas Dwikaton dikenal luas tidak hanya karena karya bangunannya, tetapi juga melalui goresan kuasnya sebagai pelukis, pahatan tangannya sebagai pematung, serta senandung suaranya sebagai seorang vokalis.
Seni baginya bukan sekadar hobi, melainkan bentuk ekspresi spiritual dan cara merayakan kehidupan. Dinding-dinding dan sudut rumahnya di Ngaglik, Kota Batu, menjadi saksi bisu bagaimana estetika seni menyatu dengan kehangatan ruang tamu tempat ia menyambut para sahabat.
Keaktifannya di berbagai wadah organisasi seni dan budaya—seperti Mayangsari, Pondok Seni di Batu, hingga memimpin organisasi seni rupa dan yayasan budaya—menunjukkan dedikasinya yang utuh untuk menghidupkan ekosistem kebudayaan lokal.
*Warisan Kasih Sayang di Senja Usia*
Perayaan hari ulang tahun ke-83 yang dihadiri oleh para sahabat dekat, tokoh rohaniwan, dan seniman—seperti Dr. Slamet Henkus, Ki Syamsu Soeid, Ki Itang Sufii, Ki H. MadBerlin, Akaha Taufan Aminudin, hingga Sri Sugiarti—bukanlah sekadar seremonial. Acara yang dipenuhi lantunan doa dan kebersamaan tersebut mencerminkan betapa besar cinta yang telah ditabur oleh Mas Dwikaton sepanjang hidupnya.
Dalam sebuah rekaman momen kebersamaan yang penuh haru, Mas Dwikaton mengungkapkan sebuah filosofi hidup yang mendalam. Dengan kerendahan hati, ia berpesan kepada generasi muda dan para sahabat yang hadir untuk senantiasa merangkul satu sama lain, berbagi kasih, dan mensyukuri setiap napas anugerah Tuhan:
> “Saya merasa karena dikasih oleh Tuhan… saya ingin sekali menularkan kasih saya pada Anda dan keluarga. Jujur saja, berkat kasih saya merasa… karena saya dikasih oleh Tuhan dalam kepercayaan saya, saya ingin sekali menularkan kasih saya pada Anda dan keluarga.”
>
*Teladan yang Terus Mengalir*
Angka 83 tahun tentu bukan waktu yang singkat. Ia diisi dengan jatuh bangun, keringat kerja keras, goresan warna di atas kanvas, serta jalinan persaudaraan yang erat. Mas Dwikaton Singoyudo telah membuktikan bahwa usia senja bukanlah halangan untuk tetap memancarkan energi positif.
Lewat ketulusan senyumnya, ketajaman pemikirannya, dan kehangatan hatinya, beliau mengajarkan kita arti hidup yang sebenarnya: bahwa kekayaan sejati seorang manusia terletak pada seberapa tulus ia mencintai sesama dan mendedikasikan hidupnya bagi kebaikan bersama.
Selamat Ulang Tahun yang ke-83, Mas Dwikaton Singoyudo. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kedamaian, dan keberkahan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
Kota Batu 23 Oktober 2026
*Akaha Taufan Aminudin*
*SATUPENA JAWA TIMUR*
Mas Dwi Katon
Slamet Hendro Kusumo
Syamsu Soeid
Achmad Berlin Rifai
Apink Sunartin
Sri Sugiarti
Itang Sufi
Nurochman
Denny J.A’s World
https://www.facebook.com/share/1FUao4DvpA/











