“MENULIS ULANG PAGI”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

Rabu, 5 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi “MENULIS ULANG PAGI”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia’s Artworks No. 925-381 (Assisted by AI)

 

/1/

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

MENULIS ULANG PAGI

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kami hujan air mata pohon yang menolak jatuh ke lumpur.
Darah kami bukan sungai yang mengalir ke laut,
tetapi akar yang menembus tanah,
menjadi pohon yang tak sudi lagi ditebang.

Mereka mengira sejarah bisa ditulis ulang
dengan tangan yang gemetar,
tapi lihatlah,
huruf-huruf kami telah tertanam di batu,
menolak terhapus,
menolak tunduk.

Di langit yang mereka bakar dari hutan ini,
kami akan menulis ulang pagi.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/2/

PENGLIHATAN KAMI

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka mengira mata kami bisa dihapus,
bahwa cahaya bisa dikoyak dari bola mata
seperti seseorang mencabut paku dari papan tua.
Tetapi lihatlah,
meski mereka menutup kelopak,
penglihatan ini telah berpindah ke tanah,
ke sungai,
ke batu-batu yang mengingat segala jejak.

Kami bukan sekadar retina yang bisa dibutakan,
Kami adalah pandangan yang menolak lenyap,
saksi yang menempel di tulang sejarah,
tak bisa dikikis oleh ketakutan atau waktu.

Mereka mengira kegelapan bisa menang.
Mereka keliru,
bayangan hanya ada
karena cahaya masih bertahan.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/3/

Tangan yang Tak Bisa Dipatahkan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka pikir tangan ini bisa dipatahkan,
seperti ranting kering di musim dingin,
seperti pena yang dilempar ke api.
Tetapi mereka lupa,
tulang bisa patah,
tapi genggaman tidak.
Darah bisa mengalir,
tetapi tekad tak bisa dikuras.

Kami telah menulis di udara
dengan jari yang gemetar,
menjahit kebenaran ke dalam angin,
memahat perlawanan ke dalam batu
yang tak bisa dihancurkan bahkan oleh waktu.

Mereka pikir kami akan berhenti.
Mereka tak sadar,
tangan yang patah
bisa menjadi akar yang tumbuh lebih dalam.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/4/

Suara yang Tak Bisa Ditenggelamkan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka mencelupkan mulut kami ke dalam air,
menenggelamkan kata-kata seperti batu
yang diikat ke tubuh tanpa nama.
Tetapi lihatlah, gelembung udara naik ke permukaan,
mengubah dirinya menjadi gema.
Kami tak tenggelam.
Kami hanya sedang mengumpulkan badai.

Mereka bisa menekan suara,
tetapi mereka tak bisa membunuh gema
yang terus memantul dari dinding ke dinding,
dari hati ke hati,
dari luka ke perlawanan.

Mereka pikir kami hanya bisa diam.
Padahal diam dalam keheningan akhirnya akan  berteriak.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/5/

Buku yang Tidak Bisa Dibakar Kedua Kali

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka membakar buku suara kami yang terpinggirkan,
membakar  halaman demi halaman,
tetapi tidak bisa membakar makna.
Asap yang naik hanyalah selimut sementara
bagi kata-kata yang menolak punah.

Kami melihat tinta yang membara
menguap ke dalam udara,
lalu kembali turun
sebagai hujan yang akan menumbuhkan
lebih banyak pohon,
lebih banyak kertas,
lebih banyak cerita yang mereka takutkan.

Mereka pikir ini akhirnya.
Tapi kita sadar:
abu buku ini adalah awal dari api baru.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/6/

Luka yang Tidak Bisa Dihapus

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka menusuk kulit,
menoreh luka seperti mencoret papan tulis.
Tapi mereka lupa,
tubuh bukan papan yang bisa dihapus.
Luka ini bukan akhir.
Luka ini adalah alfabet baru,
menulis dirinya sendiri di daging,
menjadi kitab yang tak butuh tinta.

Bekas luka ini menjadi peta,
jahitan luka ini menjadi paragraf
yang menceritakan bagaimana kami tetap hidup,
bahkan setelah mereka mencoba memadamkan denyut kami.

Mereka pikir kami akan gentar dan hilang nyali untuk menuliskan tipu daya mereka,
Mereka tak tahu,
darah juga bisa menjadi tinta.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/7/

Dinding yang Tidak Bisa Runtuh

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka mendirikan tembok,
berharap kami tak bisa keluar.
Tapi,
tembok juga bisa menjadi kanvas,
menjadi kitab yang ditulis dengan bayangan dan debu.

Kami telah mengukir dinding ini dengan kesabaran,
menyusup ke celah-celahnya,
membiarkan angin membawa pesan kami
ke mereka yang masih di luar.

Mereka pikir mereka mengurung kami.
Penjara ini justru menjadi monumen
bagi ketidakmungkinan yang menolak roboh.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/8/

Langkah yang Tidak Bisa Dihentikan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka mengira jalan ini bisa diputus,
bahwa jika mereka menghapus jejak kami,
Kami akan kehilangan arah.
Tapi mereka lupa,
jalan tidak hanya ada di tanah.
Jalan juga ada di ingatan,
di dada,
di napas yang tak bisa dicekik.

Kami berjalan bahkan ketika tubuh kita tertatih,
menghitung jarak dengan luka,
mengubah nyeri menjadi ritme,
membiarkan waktu sendiri yang mengakui
bahwa kami masih terus melangkah.

Mereka pikir kami akan berhenti.
Mereka salah,
perjalanan ini
tak pernah dimulai oleh mereka—
dan tak bisa mereka akhiri.

Padang, Sumatera Barat, 2014

/9/

Ketika Mereka Menutup Pintu

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Mereka menutup pintu,
kami menjadi angin yang menyusup ke celahnya.

Mereka mencabut akar,
kami menjelma hutan yang lebih lebat.

Mereka menenggelamkan suara,
tetapi gema kami lahir dari kedalaman,
menggelegar dari batu ke batu,
dari nadi ke nadi.

Di ujung hari, mereka mengira dunia bisa dikunci,
tapi kami adalah takdir
yang takkan bernegoisasi.

Padang, Sumatera Barat, 2014

———————————————-

Kumpulan puisi berjudul “MENULIS ULANG PAGI” (puisi no. 1-9) di atas  awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2014. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)

Berita Terkait

Ditemani Senja Pantai Kilo Lima, Hadianto Rasyid Berbagi Pesan Inspiratif tentang Pelayanan Publik
Dorong Pariwisata Bahari, KUPP Luwuk dan Pemkab Banggai Sosialisasikan Operasional Kapal Wisata Teluk Lalong
Saat Pimpin Rapat Persiapan GTRA 2026 Bupati Amirudin Tegaskan Reforma Agraria untuk Kesejahteraan Masyarakat Banggai
53 Siswa MIN 1 Banggai Lulus 100 Persen Kemenag Suardi Khanjai Pesan Jaga Akhlak dan Adab
Hadiri Pembukaan MTQ XXXI Sulteng Wabup Furqanuddin Kawal Semangat 80 Kafilah Banggai
Dialog Budaya: Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani
Pemkab OKU Timur Gelar Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kabupaten OKU
Akselerasi Peningkatan SDM Berkualitas dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan Secara Inklusif Berbasis Potensi Unggulan

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:26 WITA

Ditemani Senja Pantai Kilo Lima, Hadianto Rasyid Berbagi Pesan Inspiratif tentang Pelayanan Publik

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:58 WITA

Dorong Pariwisata Bahari, KUPP Luwuk dan Pemkab Banggai Sosialisasikan Operasional Kapal Wisata Teluk Lalong

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:04 WITA

Saat Pimpin Rapat Persiapan GTRA 2026 Bupati Amirudin Tegaskan Reforma Agraria untuk Kesejahteraan Masyarakat Banggai

Selasa, 9 Juni 2026 - 14:42 WITA

53 Siswa MIN 1 Banggai Lulus 100 Persen Kemenag Suardi Khanjai Pesan Jaga Akhlak dan Adab

Senin, 8 Juni 2026 - 10:32 WITA

Hadiri Pembukaan MTQ XXXI Sulteng Wabup Furqanuddin Kawal Semangat 80 Kafilah Banggai

Berita Terbaru