Pagi, sekitar jam 9
Pintu sanggar baru dibuka. Angin pagi Situbondo yang masih setengah dingin pada ujung Juli 2026 masuk menggotong aroma laut khas kota itu.
Lantai kayu disapu. Cahaya matahari pagi menyusup dari celah genteng, jatuh pas di atas saron.
Cak Hosnatun muncul dengan balutan kaos oblong, sarung, sama kopi pahit di tangan.
”Ayo tojuk cong,” katanya sambil duduk di depan kendang dengan bahasa Madura dialek Situbondo.
Duk!!! Kendang dipukul sekali buat ngetes.
Terus saron, rebana, demung, peking mulai ting-tang-ting, satu-satu. Hati-hati, kayak orang ngobrol perlahan.
Pas bonang berbunyi, burung-brung_, langsung terbangun dari tidur di sarang.
Pagi di sanggar rasanya tenang. Nggak buru-buru.
Sinar matahari mulai naik. Sanggar jadi terang. Gender kayu jatinya mengkilap kltertimpa sinar alam.
Cak Hosnatun ngasih aba-aba. “Ladrang yuk. Yang halus.”
Tak… tak… dung!…Kendang jalan.
Saron menimpali, bonang mengisi, kenong menahan di tiap gatra. Gung…
Dari pojok, sinden latihan cengkok. Suaranya muter naik-turun, bikin yang lagi ngobrol di luar jadi diem dengerin.
Dari luar, terdengar suara kicau burung, dan suara knalpot motor.
Tapi di dalam cuma ada irama. Ada yang terlalu cepat cara menabuhnya, ditertawakan. Diulang lagi.
Cak Hosnatun cuma geleng kepala sembari senyum, “Sudah, gak usah terburu-buru. Karawitan itu mengajarkan kesabaran,”
Udara sudah terasa hangat. Keringat mulai menetes. Tapi semangatnya malah munggah.
Ganti gending yang lebih rame. Kendang makin kenceng. Tangan penabuh saron mulai lincah.
Wewangian minyak kayu bercampur aroma kopi dari termos.
Gong besar dipukul pamungkas. Duuuuung…getarannya nancep di dada, terus hilang pelan.
Seketika hening.
”Sudah cukup. Istirahat, makan, dulu,”
Anak-anak langsung lesehan, membuka suguhan jajan tradisional dari Cak Tutun, panggilan akrab Hosnatun. Cak Hosnatun nyender, ngelap keringat sambil mendengarkan sisa gema di kepalanya.
Suasana pengambilan/perekaman musik karawitan yang dikolaborasikan dengan alat musik rebana itu usai sudah.
Saat diwawancarai media online ini mengatakan,
”Perekaman musik karawitan yang dikolaborasikan dengan alat musik rebana telah selesai, dan ide itu adalah dari saya sendiri. Saya kan sudah mempertahankan musik tradisional sejak tahun tujuh puluhan. Jadi kita harus menciptakan kreativitas sendiri dengan cara mengkolaborasikan alat musik lain selain karawitan, dan salah satunya dengan alat musik rebana. Tujuannya adalah agar regenerasi berikutnya tidak gampang melupakan musik tradisional dari para leluhur di Situbondo. Maka dari itu saya carikan alat musik yang lain seperti tuk-tuk atau rebana itu. Karena kreasi itu muncul dari tradisi,” ujar Cak Tutun atau Hosnatun.
Syahdan, pria berusia kepala 7 itu kembali mengajak anak-anak asuhnya di sanggar kembali berlatih memainkan musik karawitan berkolaborasi dengan alat musik rebana. Penuh semangat berkesenian dengan modal sosial dan gotong – royong.

























