BOLMONG – Komitmen dalam membangun generasi unggul terus diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya ditunjukkan dalam kegiatan sosialisasi perlindungan anak dan perempuan yang digelar oleh PPA ID 0287 Sion Wineru, dengan menghadirkan narasumber dari UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PP & PA).
Dalam kegiatan tersebut, Kepala UPTD PP & PA, Rahma NaNia, membawakan materi terkait perlindungan anak dan perempuan. Sementara itu, materi tentang literasi digital disampaikan oleh Subagio Manggopa, S. Pd yang juga Kabid P3A Bolmong dengan tema “Generasi Cerdas Digital: Stop Penyalahgunaan Gadget bagi Anak Usia Sekolah.”
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga bagian dari gerakan bersama dalam memperkuat fondasi generasi masa depan di Bolaang Mongondow.
Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa perkembangan teknologi digital saat ini menuntut perhatian serius, khususnya dalam penggunaan gadget oleh anak-anak usia sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Gadget bukan musuh, tetapi tanpa kontrol dan pendampingan, ia bisa menjadi pintu masuk berbagai pengaruh negatif. Anak-anak hidup di ruang digital, namun belum tentu mampu memilah dampaknya,” ungkap Manggopa.
Fenomena penggunaan platform permainan seperti Roblox juga menjadi perhatian. Selain memberikan ruang kreativitas dan interaksi, terdapat pula konten yang berpotensi mengandung unsur kekerasan yang dapat memengaruhi perilaku anak jika tidak diawasi dengan baik.
Karena itu, peran orang tua dinilai sangat penting, bukan sebagai pihak yang melarang, melainkan sebagai pendamping yang mampu memahami, mengarahkan, dan membangun komunikasi yang sehat dengan anak.
“Pendekatan yang dibutuhkan bukan larangan semata, tetapi pendampingan. Orang tua harus hadir dalam dunia digital anak,” tegasnya.
Upaya yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Bolaang Mongondow ini dinilai selaras dengan semangat pemerintahan daerah dalam mewujudkan generasi juara.
Tidak hanya fokus pada penanganan kasus, tetapi juga mengedepankan langkah preventif melalui sosialisasi yang intens bersama komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di berbagai wilayah.
Pendekatan kolaboratif ini dinilai menjadi kunci dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara karakter dan bijak dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perlindungan anak dan perempuan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga harus dibangun melalui langkah preventif dan edukatif secara berkelanjutan.
Dengan keterlibatan semua pihak—pemerintah, masyarakat, hingga keluarga—harapan untuk melahirkan generasi juara di Bolaang Mongondow bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah proses nyata yang sedang berjalan.***






















