/1/
SETELAH MUSIM KESEDIHAN PANJANG
Puisi: Leni Marlina
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kau menapaki lorong waktu
di mana bayangan menunduk, takut mengusik langkahmu.
Mereka mundur—memberi jalan bagi cahaya yang kau bawa.
Rindu menampar dada,
ketakutan hanyut seperti daun di sungai panjang.
Kau menatap dunia—tanpa menolak,
menyedot getaran, meneguk luka yang terlupakan.
Di kulitmu, di keriput yang berbicara,
kau menulis nama-nama yang dilupakan sejarah.
Huruf-huruf berdebar, berteriak:
“Kau masih hidup. Kau hadir. Kau cukup.”
Waktu bernafas pelan di sekitarmu,
menyisir detik dengan tangan tak terlihat.
Kau berdiri—diam, namun tak gentar—
menghadapi dunia meski dunia menertawakanmu.
Kau adalah bunga yang mekar setelah musim kesedihan panjang,
batu yang tetap utuh meski bumi membakar separuhnya.
Katakan pada dunia:
“Kau ada. Kau berdiri. Memelihara nurani.
Dan itu sudah cukup.”
Melbourne, Australia, 2011 – Padang, Sumbar, 2025
/2/
MEMOTONG KETAKUTAN
Puisi: Leni Marlina
Bayangan merunduk, menelan langkahmu yang berani.
Tirani di sudut lorong menempel di udara,
menggigit dinding, menghisap detik dari waktu.
Waktu bergetar, menetes seperti darah yang pecah di lantai.
Udara tersedak, menjerit di tubuhmu,—namun kau terus berjalan.
Langkahmu menampar bayangan,
memberi lorong sunyi cara bernafas.
Cahaya merembes melalui retakan,
pisau yang memotong ketakutan.
Dan bayangan menjerit:
“Aku belajar… aku belajar…. aku terurai”.
Melbourne, Australia, 2011 – Padang, Sumbar, 2025
/3/
MENYALAKAN KEBERANIAN
Puisi: Leni Marlina
Bunga api menembus retakan aspal,
menjalar ke inti bumi,
meninggalkan nyala di tanah yang menangis.
Batu memerah, mengerut, menelan panas matahari.
Angin mencakar daun layu, menyusup ke kulitmu,
menyalakan keberanian yang menolak tunduk pada tirani.
Kau berdiri—manusia dan bumi menyatu,
beraksi, menyalakan keberanian melawan tirani, bertahan.
Tanah menjerit: “Kau cukup!”
Dan bunga api tertawa; api melompat ke langit,
menyidir dunia cara hidup:
yang kadang tak selalu berani untuk kebenaran dan keadailan,
tapi kompromi denggan kecurangan dan keserakahan.
Melbourne, Australia, 2011 – Padang, Sumbar, 2025
/4/
BAYANGAN MENUNDUK
Puisi: Leni Marlina
Bayangan menunduk, menempel, menjerit.
Cahaya menembus retak, menghantam matamu.
Detik jatuh—pecah menjadi ribuan serpihan.
Malam ingin menelanmu, tapi kau menolak,
berteriak dengan diam, langkah, dan cahaya.
Bayangan tersipu, cahaya berbisik:
“Hadir berarti menolak diam.”
Kau berdiri—diam, namun berbicara,
menjadi nyala yang menyalakan keberanian mereka yang tak bersuara.
Melbourne, Australia, 2011 – Padang, Sumbar, 2025
/5/
DEBU YANG MENULIS
Puisi: Leni Marlina
Debu hinggap, menempel di kulitmu,
membisikkan kata yang belum lahir.
Cahaya merembes melalui retakan,
mengajak debu menulis puisi di udara.
Tulang, darah, urat bergetar,
menjadi surat bagi dunia yang terluka.
Kau berdiri, tangan terbuka,
mengajarkan jiwa dan bumi mencintai,
menentang tirani, menjadi gelombang yang menolak mati.
Debu menulis dan tertawa—
hidupmu kadang bagaikan air
kadang bagaikan api.
Melbourne, Australia, 2011 – Padang, Sumbar, 2025
/6/
MATAHARI DAN DEBU
Puisi: Leni Marlina
Matahari menembus jendela,
memeluk debu dan tubuhmu.
Tarikan napas menjadi gelombang yang menghantam tirani.
Debu meronta di udara,
mengusap wajahmu, aroma tanah basah, rasa garam dunia.
Kau berdiri di tengahnya,
menyerap cahaya, bumi, dan langit,
tubuhmu bergetar—
dan hatimu bersuara.
Keberanianmu adalah doa.
Cinta adalah senjata.
Dan kau kini mengerti:
hadir berarti hidup sepenuhnya,
hadir berarti menggetarkan dunia.
Melbourne, Australia, 2011 – Padang, Sumbar, 2025
























