Pesantren: Jantung Peradaban Nusantara dan Arah Baru Kebijakan di Era Prabowo Subianto

Rabu, 22 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Rastono Sumardi

(Ketua Pergunu Banggai Sulawesi Tengah)

Di tengah deru modernisasi, ada satu institusi yang tak lekang oleh waktu, terus berdetak sebagai jantung peradaban dan moral bangsa Indonesia: pondok pesantren. Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, pesantren adalah kawah candradimuka tempat jutaan anak bangsa ditempa, bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan karakter, kemandirian, dan cinta tanah air.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kini, pilar fundamental ini tengah menyongsong babak baru. Kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di Kementerian Agama menjadi sinyal kuat dari negara untuk memberikan afirmasi, dukungan, dan posisi yang semestinya bagi pesantren. Ini adalah langkah untuk memuliakan warisan sekaligus mengakselerasi perannya di masa depan.

DNA Kekuatan Pesantren: Empat Pilar Tak Tergoyahkan

Untuk memahami signifikansi kebijakan baru ini, kita harus menyelami sumber kekuatan abadi pesantren yang telah teruji selama berabad-abad.

1. Pabrik Akhlak dan Karakter: Di saat banyak lembaga fokus pada kecerdasan intelektual, pesantren konsisten mencetak manusia yang utuh. Budaya tawadhu (rendah hati) pada kiai, kebersamaan hidup di asrama, dan kesederhanaan membentuk pribadi yang tangguh, berempati, dan berakhlak mulia.

2. Laboratorium Kemandirian: Jauh sebelum konsep life skills dan kewirausahaan menjadi tren, santri telah mempraktikkannya setiap hari. Dari mengurus kebutuhan pribadi hingga mengelola unit usaha pesantren seperti koperasi, pertanian, dan peternakan, mereka dididik untuk menjadi insan yang mandiri dan berjiwa wirausaha (pesantrenpreneurship).

3. Benteng Nasionalisme: Sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana kiai dan santri berada di garda terdepan perjuangan kemerdekaan. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah bukti sahih bahwa bagi kaum santri, cinta tanah air adalah bagian dari iman (hubbul wathon minal iman). Pesantren adalah tempat nasionalisme dan religiusitas menyatu dengan sempurna.

4. Mata Air Keilmuan Islam Moderat: Melalui tradisi sanad (rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW), pesantren menjaga otentisitas ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat, toleran, dan ramah—wajah Islam khas Nusantara.

 

Pesantren dalam Angka: Potret Raksasa Pendidikan Indonesia

Kekuatan pesantren bukan hanya kualitatif, tetapi juga kuantitatif. Skalanya yang masif menunjukkan betapa strategisnya peran lembaga ini.

• Jumlah Pesantren: Berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag) terbaru, terdapat lebih dari 42.400 pondok pesantren yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Angka ini terus bertumbuh, menandakan kepercayaan masyarakat yang tinggi.

• Jumlah Santri: Populasi santri di Indonesia sangat besar. Kemenag memperkirakan jumlahnya mencapai hampir 11 juta orang secara total. Adapun data santri mukim (menetap) yang terdaftar resmi di Kemenag untuk tahun ajaran 2025/2026 mencapai 1.378.687 orang. Perbedaan angka ini menunjukkan luasnya spektrum santri, dari yang menetap hingga yang kalong (tidak menetap).

Sebaran pesantren dan santri ini terkonsentrasi di provinsi-provinsi seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten, yang telah lama menjadi pusat peradaban santri di Indonesia.

Babak Baru: Logika di Balik Kebijakan Direktorat Jenderal Pesantren

Pembentukan Ditjen Pesantren oleh pemerintahan Prabowo Subianto bukanlah sekadar perubahan nomenklatur birokrasi. Ini adalah sebuah langkah yang didasari argumentasi logis yang kuat untuk memberdayakan pesantren secara maksimal.

1. Pengakuan atas Keunikan (Kekhasan)

Selama ini, urusan pesantren berada di bawah Ditjen Pendidikan Islam (Pendis), bersama madrasah dan perguruan tinggi Islam. Padahal, pesantren memiliki model pendidikan, budaya, dan kebutuhan yang sangat berbeda. Ditjen khusus adalah bentuk afirmasi negara bahwa pesantren adalah entitas unik yang memerlukan pendekatan kebijakan yang spesifik dan tidak bisa disamakan dengan sekolah formal.

2. Fokus Anggaran dan Program Tepat Sasaran

Dengan memiliki “rumah” sendiri, alokasi anggaran dan program untuk pesantren akan jauh lebih fokus. Negara dapat merancang program yang benar-benar menjawab kebutuhan riil, seperti:

1. Peningkatan Kualitas Sarana: Bantuan renovasi dan pembangunan asrama yang sehat dan layak.

2. Kesejahteraan SDM: Program peningkatan kesejahteraan bagi para kiai, nyai, dan ustaz.

3. Pengembangan Ekonomi: Stimulus dan pendampingan untuk unit-unit usaha pesantren.

3. Menjaga Otonomi, Bukan Intervensi

Tujuan utama Ditjen ini adalah menjadi fasilitator dan mitra, bukan regulator yang kaku. Dengan diisi oleh birokrat yang memahami dunia pesantren, kebijakan yang lahir diharapkan dapat memperkuat kemandirian dan tradisi pesantren, bukan malah menyeragamkannya dengan standar pendidikan formal yang bisa menggerus ruhnya.

4. Kanal Advokasi dan Akselerasi yang Kuat

Sebagai lembaga setingkat Eselon I, Ditjen Pesantren akan menjadi juru bicara yang kuat bagi komunitas pesantren di tingkat pemerintahan tertinggi. Ini akan mempermudah advokasi untuk penyetaraan ijazah, menjalin kolaborasi lintas kementerian (misalnya dengan Kemenkop UKM atau Kemenkes), dan mendorong santri agar lebih berdaya saing di tingkat global.

Kesimpulan: Memuliakan Warisan, Menjemput Masa Depan

Pesantren adalah warisan terbesar bangsa Indonesia. Ia telah terbukti menjadi sumber kekuatan moral, intelektual, dan ekonomi. Kebijakan membentuk Direktorat Jenderal Pesantren di era Presiden Prabowo Subianto adalah sebuah langkah historis untuk menempatkan pesantren sebagai mitra strategis negara dalam membangun Indonesia Emas 2045.

Ini adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa jantung peradaban Nusantara ini tidak hanya terus berdetak kencang, tetapi juga mampu memompa darah segar berupa generasi unggul yang siap menjawab tantangan zaman, dengan akar tradisi yang kokoh dan pandangan masa depan yang cerah.

Berita Terkait

Pemuda Tanjung Indra(42) Ajak Warga Banggai Bersinergi Kawal Pembangunan dan Jaga Kamtibmas
Ketua DPRD Balut Patwan Kuba Hadiri Upacara Otda ke 30 Kritik Kewenangan Daerah Kian Terbatas akibat Kontrol Fiskal Pusat
Wakili Bupati Banggai Laut Sekda Saiful Pimpin Upacara Otda ke 30 Sinergi Jadi Kunci Kesejahteraan
Portal Pasar Simpong Diprotes Komisi III DPRD Banggai Minta Pemkab Evaluasi Kebijakan
Pemda Banggai Perkuat Keamanan Pangan Lewat Program Germas SAPA dan Sinergi Lintas Sektor
Tahap Akhir Seleksi JPTP Banggai Wabup Furqanuddin Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Teladan
DANREM 044/Garuda Dempo Didampingi Bupati OKU Resmikan Jembatan Gantung Garuda di Desa Pusar, Buka Akses dan Dorong Perekonomian Warga
Wabup Furqanuddin Sampaikan LKP 2025 Kinerja PAD Banggai Naik Meski Transfer Turun

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 13:58 WITA

Ketua DPRD Balut Patwan Kuba Hadiri Upacara Otda ke 30 Kritik Kewenangan Daerah Kian Terbatas akibat Kontrol Fiskal Pusat

Senin, 27 April 2026 - 09:31 WITA

Wakili Bupati Banggai Laut Sekda Saiful Pimpin Upacara Otda ke 30 Sinergi Jadi Kunci Kesejahteraan

Sabtu, 25 April 2026 - 14:02 WITA

Portal Pasar Simpong Diprotes Komisi III DPRD Banggai Minta Pemkab Evaluasi Kebijakan

Sabtu, 25 April 2026 - 12:38 WITA

Pemda Banggai Perkuat Keamanan Pangan Lewat Program Germas SAPA dan Sinergi Lintas Sektor

Sabtu, 25 April 2026 - 12:28 WITA

Tahap Akhir Seleksi JPTP Banggai Wabup Furqanuddin Dorong Lahirnya Pemimpin Birokrasi Teladan

Berita Terbaru

Nasional

Membaca Kekuatan Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35 

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:46 WITA