Suarautara.com, Buol — Terminal sejatinya merupakan salah satu urat nadi perekonomian rakyat. Di Kabupaten Buol, terminal tidak hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga ruang hidup bagi sopir, pedagang kecil, buruh angkut, hingga pelaku usaha mikro yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas transportasi antar kota. Namun, kondisi terminal di Buol saat ini justru menunjukkan realitas yang memprihatinkan.
Salah satu contoh nyata terlihat di Terminal Los, terminal antar kota yang seharusnya dikelola secara tertib, nyaman, dan fungsional. Sayangnya, pengelolaan terminal tersebut dinilai amburadul. Penataan kendaraan yang tidak teratur, fasilitas umum yang kurang terawat, serta minimnya pengawasan membuat terminal kehilangan fungsi utamanya sebagai pusat transportasi yang aman dan efisien.
Kondisi ini diperparah dengan tata kelola pasar di sekitar terminal yang tidak tertib. Aktivitas pedagang yang tidak teratur menyebabkan akses keluar-masuk kendaraan terganggu. Area publik menjadi semrawut, kenyamanan penumpang menurun, dan aktivitas ekonomi tidak berjalan maksimal. Terminal yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi rakyat justru berubah menjadi ruang yang rawan konflik kepentingan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buol, Pudiyardi Mokodompit, menilai bahwa semrawutnya pengelolaan terminal mencerminkan lemahnya perhatian pemerintah daerah terhadap sektor ekonomi kerakyatan.
“Terminal itu bukan sekadar tempat kendaraan berhenti, tetapi ruang ekonomi rakyat kecil. Kalau dibiarkan semrawut, yang paling dirugikan adalah sopir, pedagang kecil, dan masyarakat pengguna jasa,” ujar Pudiyardi.
Plitisi PDIP Buol ini menegaskan, jika terminal dan pasar di sekitarnya dikelola secara serius dan profesional, keduanya dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat. Namun, tanpa penataan yang jelas dan pengawasan yang konsisten, potensi tersebut akan terus terbuang.
“Pemerintah daerah harus hadir dengan solusi, bukan membiarkan kondisi ini berlarut-larut. Penataan harus tegas tetapi tetap berpihak kepada rakyat kecil agar roda ekonomi bisa berjalan dengan baik,” tambahnya.
Pudiyardi juga mendorong Pemerintah Kabupaten Buol untuk segera melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari penataan zona kendaraan, perbaikan fasilitas terminal, hingga penertiban aktivitas pasar di sekitar Terminal Los.
Dengan tata kelola yang baik, terminal diharapkan dapat kembali berfungsi sebagai pusat transportasi sekaligus pusat perekonomian rakyat Buol, bukan menjadi simbol ketidakrapian dan lemahnya pengelolaan ruang publik.
Sementara itu, Kadis Perhubungan Kabupaten Buol, Abdi Turungku saat dikonfirmasi terkait hal ini melalui cat wastapp di nomor 0822-7119-XXX, belum merespon setelah berita ini di publis.[red]






















