Rais Aam Ternyata Awam: Plagiat dan Salah Pasang Harkat, Catatan atas Pidato Kiai Miftah di Penutupan Munas NU di Bangkalan

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: GUS LILUR
‎
‎
‎Saya menyimak pidato berbahasa Arab Kiai Miftahul Akhyar dalam Munas-Konbes NU di Bangkalan melalui siaran langsung kanal NU Online.
‎
‎Sebagai lulusan MAN-PK dan santri Denanyar, telinga saya masih cukup terlatih untuk menelaah isi pidato semacam itu.
‎
‎Ketika sampai pada kutipan hadis yang menyatakan bahwa sebuah negeri, meskipun dipimpin oleh orang kafir, tetap dapat makmur selama jauh dari kezaliman, saya menyadari bahwa materi yang dibacakan ternyata bukanlah susunan beliau sendiri, melainkan diambil dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali.
‎
‎Anehnya, sepanjang kurang lebih 16 menit 25 detik pidato tersebut, saya tidak sekali pun mendengar beliau menyebut sumber rujukannya. Tidak ada penyebutan nama kitab, apalagi pengarangnya.
‎
‎Karena itu, saya merasa pantas untuk bertanya: bukankah praktik seperti ini dalam ilmu balaghah dapat dikategorikan sebagai sariqah—atau, dalam istilah akademik modern, plagiasi?
‎
‎Namun, persoalan sumber yang tidak disebutkan itu sesungguhnya baru separuh masalah. Sebab, meskipun beliau hanya membacakan teks yang sudah tersedia—tinggal mengeja dan melafalkannya—saya tetap menemukan sejumlah kekeliruan yang, menurut saya, seharusnya tidak keluar dari lisan seorang Rais Aam PBNU.
‎
‎Berikut beberapa catatan yang saya temukan.
‎
‎Pertama, kesalahan dalam menyebut tahun (durasi 2:01:47), dan kesalahannya terbilang sangat mendasar.
‎
‎Ketika menyebut tahun 1448 Hijriah, yang terlontar dari lisan beliau adalah arba‘ata ‘asyar … alfan … wa tsamaniyah … wa arba‘in … hijriyan, yang secara harfiah berarti “empat belas ribu empat puluh delapan Hijriah”, atau jika ditulis dengan angka menjadi 14.048 H.
‎
‎Ini bukan sekadar keseleo lidah biasa. Ini adalah kekeliruan yang cukup fatal dan terasa janggal keluar dari seorang Rais Aam PBNU yang selama ini dipersepsikan sebagai sosok alim.
‎
‎Dulu, ketika saya belajar bab ‘Adad dalam Alfiyah kepada Kiai Aziz Masyhuri, sudah sangat jelas dijelaskan bahwa penyebutan yang tepat adalah tsamaniyah wa arba‘in wa arba‘imi’ah wa alf.
‎
‎Susunannya boleh dimulai dari alf terlebih dahulu, atau diakhiri dengan arba‘in, tetapi tidak sebagaimana yang beliau ucapkan.
‎
‎Kedua, terdapat setidaknya enam kesalahan dalam pembacaan teks. Padahal, sekali lagi, beliau hanya membacakan teks yang sudah tersedia. Enam kekeliruan tersebut terdiri atas empat kesalahan harakat dan dua kesalahan lafal.
‎
‎Mari kita mulai dari kesalahan harakat.
‎Pertama, saat menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang telah bersungguh-sungguh, beliau membaca bi badzlil was‘i (durasi 2:02:35).
‎
‎Padahal, hampir semua santri yang pernah mengaji shorof dan usul fikih bab ijtihad mengetahui bahwa bentuk yang tepat adalah badzlul wus‘i, sebuah frasa yang sangat populer dalam literatur usul fikih ketika mendefinisikan ijtihad.
‎
‎Kedua, ketika menjelaskan dua tugas pemimpin yang diberikan Allah, beliau membaca wa mulkuhum azmatul ibrom wan naqdl (durasi 2:05:25). Pada bagian ini terdapat dua kesalahan sekaligus. A) seharusnya berbunyi wa mallakahum, bukan mulkuhum, baik karena alasan makna maupun untuk menjaga keselarasan dengan struktur jumlah fi‘liyyah sebelumnya, yaitu wakhtaro. B) beliau membaca azmat, padahal bentuk yang benar adalah azimmat—jamak dari zimam—yang justru lazim digunakan dalam konteks kepemimpinan dan kekuasaan. Kesalahan seperti ini, menurut saya, cukup menunjukkan kualitas penguasaan teks yang sebenarnya.
‎
‎Ketiga, ketika menyebut keyakinan kaum Majusi bahwa kezaliman tidak dibenarkan dalam agama mereka, beliau membaca jaizun (durasi 2:07:55). Padahal, yang tepat adalah jaizan, karena berfungsi sebagai maf‘ul tsani dari kata kerja yaro.
‎
‎Keempat, saat mengutip kisah Nabi Dawud yang dilarang mencela para raja non-Arab (‘ajam), beliau membaca an anhi (durasi 2:08:11). Secara sharaf, bentuk tersebut kurang tepat. Seharusnya dibaca aninha, yang berasal dari fi‘il mujarrad naha–yanha, bukan dari bentuk mazid anha–yunhi.
‎
‎Adapun dari sisi lafal, saya juga menemukan dua kekeliruan.
‎
‎Pertama, beliau membaca li fadh lil ‘ibad (durasi 2:05:18). Saya bahkan sempat mengernyit beberapa kali karena tidak memahami maksud frasa tersebut. Setelah membuka kembali kitab Nasihatul Muluk, ternyata yang benar adalah li hifzhil ‘ibad.
‎
‎Kedua, beliau membaca “bis sawiyyah” (durasi 2:07:55). Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan lafal tersebut, hingga akhirnya menyadari selepas membuka Nasihatul Muluk bahwa yang dimaksud sesungguhnya adalah al-umur al-sirriyyah.
‎
‎Demikian beberapa catatan yang saya temukan dari pidato penutupan Munas-Konbes tersebut. Menurut saya, kekeliruan-kekeliruan semacam ini tidak seharusnya muncul dari seorang Rais Aam PBNU, terlebih ketika yang dibaca hanyalah sebuah teks yang telah tersedia.
‎
‎Rais Aam yang plagiat, tidak tahu pasang harkat, dan punya riwayat sebagai penebar pertengkaran di tubuh NU, tidak layak lagi jadi Rais Aam.
‎
‎Salam Amar Ma’ruf Nahi Munkar
‎HRM Khalilur R Abdullah Sahlawy
‎Warga NU, Kiai Kampung
‎
‎
‎https://www.youtube.com/live/roxJ8QUQDR8?si=wQb6ZqhrbdFhqB2e
‎

Berita Terkait

Kapolresta Banggai Hendri Yulianto Gelar Turnamen Domino Berhadiah Rp 50 Juta 232 Tim Siap Bertanding
Guru Tidak Ditugaskan untuk Menyeragamkan Murid
Mengukir Sejarah dari Kota Wisata: KYM Kota Batu dan SATUPENA Gelar ‘Nubar’ Puisi Bersama Mendikdasmen RI
Bereskan Kabel Semrawut Wabup Furqanuddin Beri Waktu Kadishub dan Satpol PP Tertibkan Provider Nakal
Ratusan Mahasiswa Unismuh Luwuk Ikuti Pertamina Goes to Campus 2026 Peluang Magang hingga Riset Dibuka
Sambut HUT Humas Polri ke 75 Kapolresta Banggai Hendri Yulianto Salurkan Sembako ke Dua Panti Asuhan
Dandim 1308/LB Letkol Cepi  Bersama Anggota Bagikan 200 Masker Warga Banggai Diimbau Tak Membakar Lahan
TIDAR/Tunas Indonesia Raya Situbondo Bangkit dan Bergerak Kawal Pembangunan Nasional 

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:00 WITA

Kapolresta Banggai Hendri Yulianto Gelar Turnamen Domino Berhadiah Rp 50 Juta 232 Tim Siap Bertanding

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:09 WITA

Mengukir Sejarah dari Kota Wisata: KYM Kota Batu dan SATUPENA Gelar ‘Nubar’ Puisi Bersama Mendikdasmen RI

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:56 WITA

Bereskan Kabel Semrawut Wabup Furqanuddin Beri Waktu Kadishub dan Satpol PP Tertibkan Provider Nakal

Rabu, 21 Oktober 2026 - 04:08 WITA

Ratusan Mahasiswa Unismuh Luwuk Ikuti Pertamina Goes to Campus 2026 Peluang Magang hingga Riset Dibuka

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:52 WITA

Sambut HUT Humas Polri ke 75 Kapolresta Banggai Hendri Yulianto Salurkan Sembako ke Dua Panti Asuhan

Berita Terbaru

Topik Utama

Where to Play Red Door Roulette: A Comprehensive Guide

Kamis, 22 Okt 2026 - 09:25 WITA

Topik Utama

Try Before Buy Online Pokies for Australian Players

Kamis, 22 Okt 2026 - 08:56 WITA

Topik Utama

The Ultimate Guide to Casinos with $5 Minimum Deposit

Kamis, 22 Okt 2026 - 08:54 WITA

Topik Utama

The Ultimate Guide to Casino Platform Secure

Kamis, 22 Okt 2026 - 08:23 WITA