Oleh: Hendra Tiro, Sekretaris HMI Banggai
Suarautara.com, Banggai – Dalam kehidupan sosial, bahkan politik, kita sering menemukan perumpamaan sederhana yang bisa menjadi cermin diri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kisah tentang monyet dan semut adalah gambaran nyata bagaimana sifat manusia bisa berubah karena kedudukan, pengaruh, atau pertemanan baru.
Semut, datang dari wilayah lain, awalnya dianggap bukan siapa-siapa.
Namun ia bekerja keras, berusaha memberi arti, bahkan ikut mengangkat derajat agar bisa sama-sama berpengaruh.
Sementara itu, monyet yang asli dari daerah ini, dulunya hanyalah “binatang baru” yang dikenalkan agar bisa mendapat tempat.
Kini, semua itu berubah. Monyet lebih memilih kawan baru, melupakan sahabat lama yang pernah setia membersamai.
Bahkan yang dulu mencibir keberadaan semut dalam pemberitaan, kini ikut meramaikan panggung publik tanpa menoleh pada teman yang pernah menguatkannya.
Fenomena ini mirip dengan lirik lagu viral: Tabola balek mencari kedudukan melalui jalur tikus. Ada yang rela mengorbankan nilai dan kebersamaan demi ambisi pribadi.
Padahal, semut punya sifat mulia: setiap bertemu pasti saling sapa, berbagi informasi, bahkan menunjukkan jalan menuju makanan. Filosofi hidup semut adalah kebersamaan dan gotong royong.
Berbeda dengan monyet. Saat mendapat makanan, ia enggan berbagi kepada kawan-kawannya.
Ia menyimpannya sendiri. Itulah yang disebut rakus – rakus akan makanan, rakus akan kekuasaan.
Dulu, komunikasi terjalin hangat, saling bertanya dan mendukung. Kini semua itu seakan hilang, tertiup angin perubahan.
Silaturahmi hanya dijadikan simbol, bukan lagi jiwa yang hidup dalam persaudaraan.
Kita perlu belajar dari semut : rendah hati, selalu berbagi, dan tidak pernah berjalan sendiri.
Jangan sampai kita meniru monyet yang hanya tahu mengambil untuk dirinya sendiri, lupa akan asal, lupa akan teman lama, dan lupa bahwa kekuasaan tanpa kebersamaan hanyalah kesendirian yang rapuh.( AM’oks69 )
























