Monyet dan Semut : Belajar dari Sifat Rakus dan Sifat Kebersamaan

Sabtu, 20 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Sang Penulis Hendra Tiro Sekertaris HMI Banggai

Foto Sang Penulis Hendra Tiro Sekertaris HMI Banggai

Oleh: Hendra Tiro, Sekretaris HMI Banggai

 

Suarautara.com, Banggai – Dalam kehidupan sosial, bahkan politik, kita sering menemukan perumpamaan sederhana yang bisa menjadi cermin diri.

Kisah tentang monyet dan semut adalah gambaran nyata bagaimana sifat manusia bisa berubah karena kedudukan, pengaruh, atau pertemanan baru.

Semut, datang dari wilayah lain, awalnya dianggap bukan siapa-siapa.

Namun ia bekerja keras, berusaha memberi arti, bahkan ikut mengangkat derajat agar bisa sama-sama berpengaruh.

Sementara itu, monyet yang asli dari daerah ini, dulunya hanyalah “binatang baru” yang dikenalkan agar bisa mendapat tempat.

Kini, semua itu berubah. Monyet lebih memilih kawan baru, melupakan sahabat lama yang pernah setia membersamai.

Bahkan yang dulu mencibir keberadaan semut dalam pemberitaan, kini ikut meramaikan panggung publik tanpa menoleh pada teman yang pernah menguatkannya.

Fenomena ini mirip dengan lirik lagu viral: Tabola balek mencari kedudukan melalui jalur tikus. Ada yang rela mengorbankan nilai dan kebersamaan demi ambisi pribadi.

Padahal, semut punya sifat mulia: setiap bertemu pasti saling sapa, berbagi informasi, bahkan menunjukkan jalan menuju makanan. Filosofi hidup semut adalah kebersamaan dan gotong royong.

Berbeda dengan monyet. Saat mendapat makanan, ia enggan berbagi kepada kawan-kawannya.

Ia menyimpannya sendiri. Itulah yang disebut rakus – rakus akan makanan, rakus akan kekuasaan.

Dulu, komunikasi terjalin hangat, saling bertanya dan mendukung. Kini semua itu seakan hilang, tertiup angin perubahan.

Silaturahmi hanya dijadikan simbol, bukan lagi jiwa yang hidup dalam persaudaraan.

Kita perlu belajar dari semut : rendah hati, selalu berbagi, dan tidak pernah berjalan sendiri.

Jangan sampai kita meniru monyet yang hanya tahu mengambil untuk dirinya sendiri, lupa akan asal, lupa akan teman lama, dan lupa bahwa kekuasaan tanpa kebersamaan hanyalah kesendirian yang rapuh.( AM’oks69 )

Berita Terkait

Demi Aturan Dewan Pers Anggota PWI Banggai dan Jambi Jadi Sorotan di UKW Parimo 27 Wartawan Dinyatakan Kompeten
Polda Kepri Perkuat Sinergi dengan Pers di Rakernas III PJS Tahun 2026
Bank Sulteng Ampana Perluas Layanan Selama Pemeliharaan Sistem, Transfer Antarbank Tetap Bisa Dilakukan
Cegah Demam Berdarah, Babinsa Koramil 0823/05 Panarukan Bersama PKM dan Perangkat Desa Gelar Fogging  
Menakar Kompetensi Insan Pers Wartawan Banggai hingga Jambi Berkumpul di UKW PWI Parimo
dr. Budi Nahkodai RSUD Mokoyurli, Bupati Buol Dorong Pembenahan
Lantik Pejabat Administrator dan Pengawas, Bupati Buol Dorong Perubahan Birokrasi
Universitas Negeri Malang Persembahkan Sertifikat Kepada Hosnatun Sebagai Narasumber Dalam Giat Pencantrikan Reportoar Tari Topeng Berbasis Sejarah di Jatim, Khususnya Situbondo 

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 17:54 WITA

Demi Aturan Dewan Pers Anggota PWI Banggai dan Jambi Jadi Sorotan di UKW Parimo 27 Wartawan Dinyatakan Kompeten

Rabu, 4 November 2026 - 16:22 WITA

Polda Kepri Perkuat Sinergi dengan Pers di Rakernas III PJS Tahun 2026

Rabu, 4 November 2026 - 13:42 WITA

Bank Sulteng Ampana Perluas Layanan Selama Pemeliharaan Sistem, Transfer Antarbank Tetap Bisa Dilakukan

Rabu, 4 November 2026 - 11:15 WITA

Cegah Demam Berdarah, Babinsa Koramil 0823/05 Panarukan Bersama PKM dan Perangkat Desa Gelar Fogging  

Selasa, 3 November 2026 - 23:37 WITA

Menakar Kompetensi Insan Pers Wartawan Banggai hingga Jambi Berkumpul di UKW PWI Parimo

Berita Terbaru