Buol, Suarautara.com – Sebanyak 68 Mahasiswa/i dari Program Studi DIII Keperawatan Toli-Toli Poltekes Kemenkes Palu mengikuti kegiatan praktek lapangan yang berfokus pada simulasi bencana di Pantai Ilambe, Desa Bokat, Kecamatan Bokat.
Simulasi ini merupakan bagian dari pembelajaran tentang manajemen bencana yang diadakan oleh Poltekes Kemenkes Palu pada Minggu, (13/7).
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa/i dalam menghadapi berbagai jenis bencana, terutama di daerah rawan bencana. Dalam simulasi ini, mahasiswa dilibatkan dalam berbagai skenario penanggulangan bencana yang melibatkan tim medis, penyelamatan korban, serta koordinasi dengan pihak berwenang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain Mahasiswa, kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan Kabupaten Buol yang diwakili oleh Sekretaris Dinkes, dr. Arianto Panambang,M.AP, BPBD Kabupaten Buol, Puskesmas Bokat, Camat Bokat, PMI Kabupaten Buol, Pemerintah Desa Bokat, masyarakat Desa Bokat, PMR dari sekolah setempat, serta dosen dari Poltekes Kemenkes Palu.
Salah satu pengampu mata kuliah, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk memberikan pemahaman mendalam kepada mahasiswa tentang pentingnya kesiapsiagaan dan tanggap darurat dalam situasi bencana.
Simulasi ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana peran tenaga kesehatan di lapangan saat terjadi bencana.
Penanggung Jawab PKK/Praktek Kerja Klinik, Azwar, S. Kep., Ns., M. Kes kepada awak media mengatakan dipilihnya pantai Ilambe yang terletak di Desa Bokat karena daerah pesisir di waialyah Sulawesi Tengah yang termasuk dalam daerah yang rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi dan Tsunami. dengan demikian, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mahasiswa mengenai pentingnya mitigasi dan pengelolaan risiko bencana,” terangnya.
Sementara itu Ketua Prodi Sove Evie, S. Kep., Ns., M. Kep mengatakan bahwa kegiatan simulasi bencana ini sudah dilakukan selama 4 kali selama 4 tahun berturut-turut. Dimana, Dua kali dilaksanakan di pantai Maninang Kampung Bugis dan dua kali dilaksanakan di desa Bokat,”terangnya.
Ia pun mengapresiasi kehadiran berbagai pihak terkait dalam simulasi ini menunjukkan adanya sinergi yang baik antara pihak pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat dalam menangani potensi bencana. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam menghadapi bencana serta memperkuat kerja sama dalam upaya penanggulangan bencana.
“ Simulasi ini diharapkan dapat memperkuat keterampilan mahasiswa dalam bekerja secara cepat, efisien, dan terkoordinasi dalam situasi darurat, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan nyata di masa depan,” imbuhnya.
Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari kurikulum pendidikan tinggi, untuk mencetak tenaga medis dan relawan yang siap menghadapi bencana di berbagai wilayah.[Martinus Palebangan].






















