SUARAUTARA, Buol – Dari pantauan media ini di Pasar Tradisional Buol, Sulawesi Tengah, Minggu (5/3/23), harga Beras naik melambung tinggi. Padahal, bulan suci Ramadhan masih 16 hari lagi.

Sontak, kenaikan harga beras ini menjadi masalah baru bagi ibu rumah tangga pasca pandemic covid-19.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebutuhan beras menjadi factor utama dalam kebutuahn hidup sehari-harinya. Apalagi, jelang bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari.
Seperti di Pasar Paleleh, berdasarkan pantauan langsung media ini, Minggu (5/3/2023), kenaikan harga beras premium membuat warga beralih ke beras Bulog eceran dan kemasan dengan merk Beras Mediu 5kg laris manis karena harganya yang lebih murah dibandingkan harga beras kemasan merek lain.
Di Pasar Paleleh, beras Bulog premium kemasan seperti merk Fortune dijual dengan harga Rp.75,000/5 Kg, sedangkan Bulog eceran dijual dengan harga Rp 10,000 hingga Rp.12,000/kilogram dan untuk beras eceran biasa dipatok harga dari 12,500/kilogram sampai 14ribu.
Sedangkan beras merek lain, harganya bisa mencapai lebih dari Rp 12.000 hingga Rp.15,000 per kilogramnya, tergantung merek.
Larisnya beras bulog ini, membuat pedagang kehabisan stok. Sementara beras Bulog sendiri, dipasok ke Pasar Paleleh kepada penjual tidak menentu.
“Sekali pasok, saya dapat beras Bulog sebanyak 100 kg dalam karung,”ujar salah satu pedagang sembako di pasar Paleleh saat ditemui.
Ia mengaku, tidak sampai tiga hari setelah dipasok, beras Bulog ludes terjual. Larisnya beras Bulog ini merupakan dampak dari kenaikan harga beras di pasaran.
Beras tipe “Medium” milik bulog yang harganya Rp 65 ribu untuk kemasan 5 kg menjadi incaran warga karena harganya lebih murah. Selain itu, kualitas beras Bulog yang saat ini lebih bagus, juga menjadi pilihan warga di tengah naiknya harga beras.
“Alhamdulilah kalau beras Bulog saya dapat dan Alhamdulillah penjualannya juga lancar kalau harganya stabil dan lebih murah,” kata Sarifa.
Kekawatiran masayarakat jelang bulan suci Ramadhan yang tinggal menghitung hari terhadap kebutuhan beras, sangat dirasakan. Apalagi belum ada operasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini dinas terkait.
Kebutuhan beras Bulog ini tentu sangat diharapan oleh warga masyarakat untuk meringankan beban rumah tangga karena sebagian besar harga sembako juga pada naik.
emntara itu, Nurhayati salah satu warga Buol ditemui di Pasar Buol saat membeli beras disalah satu lapak kepada suarautara.com, Minggu (5/3/2023) mengatakan dampak kenaikan harga beras ini sangat dirasakan oleh warga. Meski kenaikannya tidak terlalu melambung tinggi, akan tetapi dampak dari kenaikan ini pada harga sembako lainnya, apalagi sebentar lagi menyambut bulan suci Ramadhan, tentu segala kebutuhan sembako sangat berpengaruh terhadap dampak kenaikan ini.
“ Kami berharap kepada pemerinta daerah dalam hal ini dinas terkait untuk segera melakukan operasi pasar murah terhadap beberapa sembako yang diperkirakan naik jelas Ramadhan, jika hal ini bisa diwujudkan, maka dapat membantu warga masyarakat,” tandasnya.
(red)
























