SUARAUTARA.COM, TOJO UNA-UNA – Ampana Book Party (ABP) menggelar Kelas Dialektika Estetika – September Hitam bertajuk “Tanpa Jarak Ingatan”, Sabtu malam, 26 September 2026, di Sniv Home Brew Coffee, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Labiabae, Kecamatan Ampana Kota.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WITA itu diikuti puluhan peserta yang mengenakan pakaian hitam. Simbol tersebut menjadi bagian dari refleksi terhadap berbagai persoalan kekerasan, ketidakadilan, dan pelanggaran hak yang menjadi perhatian dalam agenda September Hitam.
Salah satu materi yang mendapat perhatian peserta disampaikan Nasrun, S.H., CLOA., CPM, yang membahas persoalan agraria, hak masyarakat adat, serta strategi advokasi melalui pemahaman terhadap regulasi.
Dalam pemaparannya, Nasrun menekankan pentingnya masyarakat memahami dasar hukum ketika menghadapi persoalan agraria maupun dugaan perampasan hak masyarakat adat.
Ia kemudian menyinggung Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) sebagai salah satu instrumen hukum yang menurutnya penting dipahami dalam memperjuangkan persoalan agraria.
“Ada salah satu undang-undang tua yang sampai hari ini belum dihapuskan dan masih berlaku, yaitu Undang-Undang Pokok Agraria. Seharusnya ini yang menjadi dasar teman-teman di wilayah,” ujar Nasrun dalam forum tersebut.
Nasrun juga memperkenalkan pola perjuangan yang ia istilahkan sebagai “strategi angkatan darat dan angkatan udara.”
Menurutnya, “angkatan darat” dapat dimaknai sebagai gerakan langsung di lapangan, seperti advokasi, aksi massa, pendampingan masyarakat, maupun berbagai bentuk perjuangan sosial. Sementara “angkatan udara” diarahkan pada kekuatan publikasi untuk memperluas perhatian terhadap persoalan yang terjadi.
“Serangan udara itu adalah tidak putus melakukan publikasi. Publikasi dengan melakukan video-video pendek tentang adanya struktur atau perampasan adat yang masih terjadi di wilayah. Jadikan itu isu nasional,” tegasnya.
Ia menilai publikasi dapat menjadi bagian penting dalam memperkenalkan persoalan masyarakat adat kepada masyarakat luas, sekaligus mendokumentasikan berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.
Selain persoalan agraria, Nasrun juga mendorong masyarakat untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan kekayaan adat yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, pengetahuan, tradisi, dan kekayaan budaya masyarakat adat memiliki nilai penting yang perlu dirawat sekaligus diperkenalkan secara lebih luas.
“Adat kita ini sangat mahal. Sayang kalau kita sendiri tidak mempublikasikannya,” tambahnya.
Diskusi dipandu oleh Kawan FansI dan menghadirkan panelis lainnya, yakni Kawan Fahmi, Kawan Badri, dan Kawan Icing.
Forum berlangsung dalam suasana terbuka dan interaktif. Peserta terlibat dalam pembahasan mengenai sejarah, persoalan agraria, masyarakat adat, kekerasan HAM, hingga pentingnya merawat ingatan kolektif.
Melalui Kelas Dialektika Estetika – September Hitam, ABP membuka ruang belajar dan pertukaran gagasan bagi masyarakat Ampana dan sekitarnya.
Kegiatan yang digelar secara gratis tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang literasi dan diskusi kritis yang dapat diakses berbagai kalangan, sekaligus mendorong masyarakat untuk membaca kembali sejarah, memahami persoalan di sekitarnya, dan merawat ingatan kolektif.***



















