Suarautara.com|Situbondo – Saat ini Radio tetap menjadi media massa konvensional yang eksis di tengah gempuran era digital dan media sosial.
Keunggulan radio terletak pada sifat nya yang auditif, fleksibel akrab serta mampu menjangkau masyarakat secara langsung.
Salah satu stasiun radio yang memiliki basis pendengar setia adalah Radio Mutiara FM.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sedangkan Radio Mutiara FM berpangkalan di Jalan Wijaya Kusuma Nomer 1 Dawuhan Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur.
Sementara itu, Radio Mutiara FM telah melakukan perubahan pada format siarannya. Radio ini memilih untuk berfokus pada program dakwah Islam dan pelestarian kesenian tradisional melalui acara gending-gending madura dan kembeng malate yang menarik simpati kalangan pendengarnya.
Sehingga fenomena transisi Radio Mutiara FM patut diberi acungan jempol karena mampu mempertahankan eksistensi sekaligus menjalankan fungsi edukasi dan informasi bagi masyarakat luas.
” Radio Mutiara FM saat ini memfokuskan diri pada konten dakwah Islam dan pelestarian kesenian tradisional “, ujar pimpinan Radio Mutiara FM, Prakoso Sukarno.
Selanjutnya Prakoso menambahkan, bahwa konten dakwah Islam dan pelestarian kesenian tradisional bertujuan untuk menjawab kebutuhan spiritual masyarakat Situbondo yang dikenal memiliki kultur dan religius yang kuat.
” yang sangat penting adalah kami ingin memahami tantangan dan peluang Radio Mutiara FM dalam beradaptasi dengan teknologi digital “, kilahnya.
Pras juga mengatakan, bahwa Radio Mutiara FM tidak hanya ditangkap di wilayah Kabupaten Situbondo, tapi juga di Kabupaten Bondowoso sekitarnya.
Sebagai radio swasta niaga juga memfokuskan jangkauan siarannya pada pemenuhan kebutuhan informasi, siraman rohani dan hiburan bagi masyarakat di kawasan tapal kuda.
Di sisi lain, Radio Mutiara FM memiliki format intereaktif, yaitu memberikan ruang bagi pendengar untuk terlibat aktif baik melalui sms, telepon untuk berdialog langsung dengan pandusiar. Langkah ini terbukti strategis. Di satu sisi Radio Mutiara FM tetap menjalankan fungsinya sebagai media hiburan namun di sisi lain memiliki nilai tambah berupa pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat.
Selanjutnya, menurut Prakoso Radio Mutiara FM dituntut tidak hanya memancarkan sinyal analog tetapi juga harus merambah ke ranah digital.
Radio Mutiara FM lintasan tak pernah sepi melekat di hati pendengarnya, sebagai contoh media massa lokal yang bersikap adaptis terhadap dinamika sosial dan kebutuhan audiensinya. Keputusan untuk melakukan transisi dengam memperkuat porsi dakwah dan pelestarian kesenian tradisional merupakan strategi komunikasi yang jitu dalam memanfaatkan kedekatan kultural dengan kalangan pendengarnya.
Meskipun berbagai tantangan menghadang, namun eksistensi Radio Mutiara FM tetap terjaga berkat loyalitas pendengarnya dan diferensiasi program yang disajikan.
Reporter: SURYADI

























