Oleh: Skaha Taufan Aminudin
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, dunia pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Revolusi digital, kecerdasan buatan, perubahan sosial, hingga krisis karakter menjadi persoalan yang harus dijawab secara bijaksana. Dalam konteks inilah, penyelenggaraan Kongres Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) XX Tahun 2026 di Yogyakarta memiliki arti yang sangat penting.
Mengusung tema “Bersatu dalam Gagasan, Bergerak dalam Perubahan”, kongres ini bukan sekadar agenda organisasi alumni, melainkan momentum untuk kembali menengok akar pemikiran Ki Hajar Dewantara dan menegaskan relevansinya bagi Indonesia hari ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pesan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang dibacakan oleh Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X, menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan ruhnya. Kemajuan teknologi memang penting, tetapi masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dikuasai, melainkan oleh seberapa kuat karakter manusia yang dibangun.
Pernyataan ini terasa sangat relevan. Hari ini kita menyaksikan banyak anak muda yang menguasai teknologi, tetapi pada saat yang sama kita juga dihadapkan pada berbagai persoalan moral: intoleransi, lunturnya etika, maraknya kekerasan verbal di media sosial, hingga semakin menipisnya semangat kebangsaan.
Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan sejak lama bahwa pendidikan bukan semata-mata proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
Karena itu, falsafah:
Ing Ngarsa Sung Tuladha,
Ing Madya Mangun Karsa,
Tut Wuri Handayani
tidak boleh berhenti sebagai semboyan yang dipasang di dinding sekolah. Falsafah tersebut harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan pendidikan dan sosial kita.
Guru harus menjadi teladan.
Pemimpin harus membangun semangat.
Dan masyarakat harus memberikan dukungan kepada generasi muda untuk tumbuh menjadi manusia yang merdeka dan berkarakter.
Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa yang telah berdiri selama 97 tahun sesungguhnya memikul tanggung jawab besar untuk menjaga warisan pemikiran tersebut. Bukan menjaga dalam arti mengawetkan masa lalu, tetapi menghidupkannya dalam konteks kekinian.
Taman Siswa sejak awal didirikan bukan hanya untuk mencerdaskan bangsa, melainkan juga untuk membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian, berbudaya, dan memiliki kesadaran kebangsaan.
Di tengah derasnya arus globalisasi, ajaran Ki Hajar Dewantara justru semakin menemukan relevansinya. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya mengejar kemajuan ekonomi, tetapi bangsa yang mampu menjaga jati diri, kebudayaan, dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Kongres PKBTS XX Tahun 2026 menjadi panggilan moral bagi seluruh keluarga besar Taman Siswa dan dunia pendidikan Indonesia untuk terus menjaga nyala perjuangan itu.
Sebab sesungguhnya, pendidikan adalah pekerjaan peradaban. Hasilnya mungkin tidak dapat dilihat dalam sehari atau setahun, tetapi akan menentukan wajah bangsa puluhan tahun ke depan.
Sebagaimana pesan Ki Hajar Dewantara:
«”Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan.”»
Maka tugas kita hari ini adalah memastikan bahwa benih-benih itu tetap tumbuh, berakar kuat, dan kelak menjadi pohon besar yang menaungi Indonesia.
Batu, 1 Juli 2026
PKBTS KOTA BATU
SATUPENA JAWA TIMUR

























