Suarautara.com,Pohuwato– Kabupaten Pohuwato diguncang dugaan skandal keuangan yang berkaitan erat dengan ekosistem Pertambangan Tanpa Izin (PETI).
Bukan sekadar soal tambang ilegal, kini persoalan makin pelik setelah mencuat dugaan bahwa dana yang dikumpulkan dari para pelaku tambang ilegal yang dikenal dengan sebutan “uang gotong royong” atau atensi telah digelapkan oleh salah satu oknum yang dipercaya sebagai pengumpul.
Dugaan ini bukan kabar angin semata. Sejumlah tangkapan layar percakapan WhatsApp yang kini beredar luas di kalangan masyarakat dan aktivis Pohuwato menjadi titik awal terbongkarnya praktik yang selama ini berjalan dalam kegelapan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dana Ilegal untuk Melancarkan Tambang Ilegal
Sumber yang mengetahui langsung mekanisme operasional tambang ilegal di Pohuwato mengungkapkan bahwa praktik pengumpulan uang gotong royong ini bukan hal baru.
Menurutnya, dana tersebut dikumpulkan secara terstruktur dari para pelakua usaha tambang ilegal, dengan dalih untuk memastikan kelangsungan operasional tanpa gangguan.
“Ini sudah jalan lama. Setiap kelompok tambang di sini tahu aturan mainnya kalau mau aman beroperasi, ada yang harus disetor. Namanya macam-macam, ada yang bilang uang gotong royong, ada yang bilang atensi, tapi maksudnya sama,” ungkap sumber tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan, pada Kamis (07/5).
Sumber itu menambahkan bahwa besaran dana yang dikumpulkan tidak kecil, dan melibatkan lebih dari satu titik lokasi tambang ilegal yang tersebar di wilayah Pohuwato.
“Jumlahnya bisa puluhan juta per putaran. Dan ini bukan sekali-dua kali sudah berkali-kali. Makanya ketika uang itu tidak sampai ke tujuan, langsung ramai,” tambahnya.
Pengumpul Dana Diduga Gelapkan Uang Setoran
Titik panas dari persoalan ini adalah dugaan bahwa seseorang yang berperan sebagai pengumpul atau perantara justru tidak meneruskan dana yang telah ia terima kepada pihak yang menjadi tujuan. Uang yang seharusnya diserahkan kepada pihak tertentu sesuai kesepakatan yang oleh sumber disebut sebagai “tempat yang sudah ditunjuk”, diduga berhenti di tangan sang pengumpul.
Seorang sumber lain yang juga mengenal dinamika internal jaringan tambang ilegal di Pohuwato menyebut bahwa kejadian ini memicu ketegangan internal di antara para pelaku.
“Yang punya tambang sudah setor, tapi ternyata uangnya tidak sampai. Akhirnya ada yang marah, ada yang merasa dikhianati. Dari situ tangkapan layar itu mulai beredar ada yang sengaja sebar buat buka borok,”ujar sumber kedua.
Ia mengaku tangkapan layar percakapan WhatsApp yang beredar memuat pembahasan eksplisit soal mekanisme penyerahan uang, jumlah yang disetor, serta nama-nama yang disebut bertanggung jawab atas penyaluran dana tersebut.
“Isi chatnya cukup jelas, ada yang marah karena tidak disampaikan. Nama-nama disebut terang-terangan di sana,” lanjutnya.
Jaringan Lebih Luas, Lebih dari Satu Oknum Disebut Terlibat
Yang memperumit persoalan adalah indikasi bahwa skema pengumpulan dana ini tidak hanya melibatkan satu atau dua orang. Berdasarkan informasi yang dihimpun, ada semacam rantai distribusi yang terbentuk ndari pelaku tambang, ke pengumpul lapangan, lalu ke pihak berikutnya, dan seterusnya.
“Ini bukan orang per orang. Ini ada strukturnya. Makanya ketika salah satu mata rantai putus dalam hal ini uang tidak disampaikan , semua pihak yang ada di jaringan itu tahu dan marah,” kata sumber pertama.
Meski demikian, sumber enggan merinci lebih jauh siapa saja pihak-pihak yang menjadi tujuan akhir dari aliran dana tersebut, dengan alasan keselamatan.
Warga Pohuwato: Sudah Saatnya Dibongkar
Kabar ini tidak hanya menjadi perbincangan di kalangan pelaku tambang ilegal. Warga Pohuwato pun mulai menyoroti persoalan ini sebagai cerminan betapa kompleksnya ekosistem tambang ilegal yang selama ini beroperasi di wilayah mereka.
Seorang tokoh masyarakat di Pohuwato yang juga enggan disebutkan namanya menyampaikan keprihatinannya atas situasi ini.
“Yang bikin masyarakat sedih itu bukan cuma soal tambang ilegalnya itu sudah lama jadi masalah. Tapi kalau ternyata ada yang main di antara mereka sendiri, berarti ini sudah level kejahatan berlapis. Ini harus dibongkar sampai ke akar-akarnya,”* tegasnya.
Ia berharap aparat penegak hukum tidak hanya menyentuh permukaan, namun berani menelusuri ke mana saja aliran uang tersebut bermuara.
“Kalau benar ada penggelapan, siapa yang rugi? Para penambang ilegal itu sendiri juga merasa ditipu. Dan ujungnya, yang selalu dirugikan adalah masyarakat dan negara karena tambang ilegal ini terus jalan tanpa pengawasan,” imbuhnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada satu pun pihak yang disebut dalam percakapan WhatsApp yang beredar memberikan pernyataan resmi maupun klarifikasi kepada media.
Investigasi terhadap aliran dana, identitas pihak-pihak yang terlibat, serta tujuan akhir dari uang gotong royong tersebut masih terus dilakukan. Sejumlah fakta baru diperkirakan akan segera mengemuka seiring meluasnya penelusuran.
Nantikan perkembangan berita selanjutnya.
Red






















