BUOL, SUARAUTARA.COM – Pembangunan jembatan penyeberangan antar dusun di Desa Balau, Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, dinilai sangat mendesak. Pasalnya, selama bertahun-tahun warga hanya mengandalkan rakit kayu untuk menyeberang menuju desa induk.
Meski telah diusulkan dari tahun ke tahun, baik melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan hingga kabupaten, pembangunan jembatan tersebut hingga kini belum juga terealisasi.
Pemerintah Desa Balau terus berupaya agar pembangunan jembatan penyeberangan dapat segera diwujudkan dan didanai melalui APBD Kabupaten, APBD Provinsi, maupun APBN, mengingat keterbatasan anggaran desa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Desa Balau, Maidah P. Todael, kepada awak media mengatakan bahwa efisiensi anggaran tahun ini membuat pemerintah desa belum mampu mengalokasikan pembangunan jembatan melalui Dana Desa. Namun demikian, pembangunan jembatan tetap menjadi skala prioritas yang diusulkan dalam Musrenbang Desa beberapa waktu lalu.
“Selain usulan kebutuhan drainase, air bersih, serta sektor pendidikan, kesehatan, dan UMKM, jembatan penyeberangan ini menjadi skala prioritas. Kami berharap dapat terealisasi dengan dukungan semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).
Sementara itu, salah seorang warga Desa Balau, Fitria, mengatakan bahwa pembangunan jembatan akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya anak sekolah dan petani yang setiap hari harus menyeberang ke desa induk.
“Kalau jembatan ini dibangun, manfaatnya akan sangat terasa bagi masyarakat, terutama anak sekolah dan petani,” katanya.
Senada dengan itu, warga lainnya menuturkan bahwa selama ini rakit penyeberangan memang sangat membantu. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak aman, terutama saat debit air sungai meningkat.
“Kalau banjir besar datang, anak sekolah tidak bisa menyeberang karena rakit tidak bisa digunakan,” pungkasnya. [Red]






















