Oleh: Drs. Akaha Taufan Aminudin
Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tetap setia berada di jalan sastra. Di tengah perubahan zaman, pergantian generasi, hingga derasnya arus teknologi digital, sastra tetap menjadi ruang pengabdian yang saya pilih. Karena itu, ketika menerima Bantuan Apresiasi Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra Tahun 2026 dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, saya memaknainya bukan sekadar penghargaan kepada seorang individu, melainkan pengakuan terhadap perjalanan panjang gerakan literasi yang dibangun bersama banyak sahabat.
Penghargaan ini menjadi energi baru untuk terus memperluas manfaat sastra bagi masyarakat. Sastra bukan hanya karya yang dibaca, tetapi juga ruang dialog, pendidikan karakter, dan upaya merawat nilai-nilai kemanusiaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama puluhan tahun, melalui Himpunan Penulis, Pengarang, dan Penyair Nusantara (HP3N) serta SATUPENA Jawa Timur, berbagai kegiatan literasi terus dilakukan. Program Gerakan Kembali ke Buku (GKB) menjadi salah satu ikhtiar mengajak masyarakat kembali mencintai buku sebagai sumber pengetahuan dan peradaban.
Berbagai buku berhasil diterbitkan, mulai dari antologi puisi, esai, hingga buku-buku sejarah, budaya, dan pendidikan. Penerbitan buku bukan sekadar menghasilkan karya cetak, tetapi juga membuka ruang bagi penulis-penulis baru untuk berkarya dan dikenal masyarakat.
Selain itu, Pameran Buku Rutin di Galeri Raos Pondok Seni Batu menjadi agenda penting yang mempertemukan penulis, pembaca, pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum. Pameran ini menjadi ruang bertemunya gagasan sekaligus memperkuat ekosistem literasi di Kota Batu.
Kegiatan Temu Sastra, Festival Sastra, Cipta dan Baca Puisi, serta diskusi kebudayaan juga terus digelar sebagai ruang apresiasi terhadap karya sastra Indonesia. Melalui kegiatan tersebut lahir banyak kolaborasi lintas daerah yang memperkaya khazanah sastra nasional.
Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, dikembangkan pula Taman Baca Masyarakat (TBM) HP3N SATUPENA Jawa Timur. Kehadiran TBM diharapkan mampu meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus menjadi pusat belajar, berdiskusi, dan berkarya bagi generasi muda.
Bagi saya, penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Sastra harus terus hadir di tengah masyarakat sebagai cahaya yang menumbuhkan kepekaan sosial, memperkuat karakter bangsa, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Empat puluh tahun berkarya mengajarkan bahwa seorang penulis mungkin tidak mampu mengubah dunia sendirian. Namun, melalui kata-kata, ia dapat menggerakkan pikiran, menyentuh hati, dan menyalakan harapan. Selama masih ada orang yang membaca, menulis, dan mencintai sastra, selama itu pula api literasi akan terus menyala untuk Indonesia.
Kota Batu, 11 Juli 2026

























