Catatan Redaksi

Buol, Suarautara.com – Pagi tadi, Minggu (17/1/2026), laut di Kelurahan Leok, Kabupaten Buol, tampak lebih sunyi dari biasanya. Rahman, seorang nelayan setempat, baru saja menjejakkan kaki di pasir pantai saat pandangannya tertuju pada kilau tak biasa di sepanjang garis pesisir.
Bukan jaring penuh tangkapan yang menyambutnya, melainkan ikan-ikan yang terdampar di pasir, sebagian masih bergerak lemah, sebagian lain sudah tak bernyawa. “Biasanya kami cari ikan ke laut, tapi pagi itu ikan justru datang sendiri,” ujarnya pelan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rahman menduga, ikan-ikan itu sudah terdampar sejak dini hari. Saat matahari mulai menampakkan sinarnya, jumlahnya kian terlihat jelas, membentang hampir di sepanjang pesisir Leok. Nelayan yang hendak melaut pun memilih berhenti. Mereka saling memanggil, memastikan apa yang mereka lihat bukan sekadar bayangan pagi.
Tak lama, pantai berubah ramai. Warga berdatangan, sebagian membawa ember dan karung, sebagian lain hanya ingin menyaksikan peristiwa yang jarang terjadi. Anak-anak berlarian di antara jejak kaki di pasir, sementara para nelayan berdiri termenung, mencoba memahami pesan laut yang pagi itu terasa berbeda.
Di sela keramaian, ponsel-ponsel diangkat. Video direkam, foto diambil. Dalam hitungan jam, peristiwa di pantai Leok menyebar ke media sosial. Orang-orang datang dari luar kelurahan, ingin melihat langsung apa yang telah ramai diperbincangkan di layar gawai mereka.
Meski sebagian ikan dimanfaatkan warga, Rahman dan nelayan lain menyimpan kegelisahan. “Kami bersyukur, tapi juga khawatir. Kami hidup dari laut. Kalau laut memberi tanda seperti ini, tentu ada sebabnya,” katanya.
Hingga siang hari, belum ada penjelasan pasti mengapa ikan-ikan itu terdampar. Dugaan sementara mengarah pada faktor alam—perubahan arus, suhu air, atau kondisi laut lainnya. Pemerintah setempat pun mengimbau warga agar berhati-hati dan tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan sudah lama mati.
Bagi Rahman, pagi itu akan selalu diingat. Bukan karena banyaknya ikan, melainkan karena rasa tanya yang ditinggalkan laut. Di pesisir Leok, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sahabat yang setiap isyaratnya patut didengar dan dijaga.***

























