Fajar belum benar-benar bangun di kecamatan Sumbermalang, Situbondo, Jawa Timur.
Kabut masih menggantung di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Desa Tlogosari, kecamatan Sumber Malang. Sperti selendang nenek yang lupa dilipat. Udara dingin menusuk tulang, tapi di beranda bambu, ada satu nyala kecil yang setia: tungku tanah liat, panci alumunium hitam, dan bau kopi yang baru ditumbuk.
Di sini orang memanggilnya “Kopi Kopral”.
Bukan sebuah pangkat militer. Bukan pula karena keras. Kopral adalah akronim dari kopi tradisional.
Dan di akhir pekan ini, Sabtu tanggal 15 Agustus 2026 saya berjumpa langsung dengan seorang inisiator kopi “KOPRAL”, Fadhil di kantor PT Walida Argopuro, tepatnya di Desa Tlogosari, Kecamatan Sumber Malang, Situbondo, Jawa Timur.
Dia menyambut kedatangan saya sangat ramah dan ada kesan mudah akrab. Senyumnya selalu mengembang bagi semua lawan bicaranya. Pria asli kelahiran kabupaten Sumenep, Madura itu mengatakan,
”Inisiasinya sejak tahun 2013 dan baru dipasarkan pertama pada tahun 2015, dan pada awalnya banyak orang belum paham, sehingga baru boomingnya di awal -awal 2020 ke atas. Dan saya merasa terinspirasi karena saya pengen masyarakat Indonesia merasakan rasa pyur asli kopi yang berasal dari sebuah daerah yang menggunakan kopi asli Sumber Malang. Kopi kopral ini murni kopi tidak ada campuran dan itu varietas Arab. Sedangkan untuk pasaran sudah tembus luar negeri yakin ke Jerman, Brasil, Arab, Dubai dan Qatar,” papar Fadhil.
Fadhil juga menambahkan bahwa, harga untuk per pack yakni Rp 60 ribu dengan isi 1,5 kilogram.
”Dan harapan saya ke depan adalah sederhana, karena saya lebih berharap kopi yang ada di Sumber Malang lebih baik, lebih terkenal dan masyarakat Sumber Malang khususnya bisa berbangga, bisa meningkatkan kesejahteraan para petani dan bisa mengentaskan kemiskinan,” pungkas Fadhil

























