Cerpen: “Penulis di Kota Tak Bernama”

Minggu, 26 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karya: Anies Septivirawan


‎Sebuah kota, tempat Ia dilahirkan, tidak bernama.  Di selembar peta, kota itu hanya samar- samar terlihat, bahkan nyaris tidak ada. Di sejarah, pun nyaris tidak ada

‎Alkisah, dahulu kala, kota tidak bernama, tempat Ia dilahirkan hanyalah berupa persimpangan. Seiring waktu berjalan meski terasa lambat,  menjadi sebuah kota, namun tanpa nama.  Mall bertumbuh, kafe – kafe bermunculan bak jamur di musim penghujan,  jalanan diperlebar, kendati sebagian jalan ada yang berlubang.

‎Namun, yang tidak pernah tumbuh adalah cerita. Pun, tidak ada tembang yang lahir di kota itu.

‎Tidak ada upacara yang ditunggu-tunggu setahun sekali. Tidak ada bahasa daerah yang anak-anaknya masih memakainya untuk bercanda.

‎Ia, adalah seorang pemuda sederhana sang penulis yang lahir dan besar di kota itu. Sejak SMP,  Ia sudah gemar menulis. Namun, setiap kali Ia mencari bahan dan referensi untuk menulis,  yang Ia temukan hanyalah sepotong papan reklame dan lahan parkir.

‎”Di mana legenda kota ini?” tanya Ia  suatu ketika kepada guru sejarahnya.

‎Sang guru menjawab, “Kota ini tak bernama, Nak. Tidak punya legenda, juga tidak punya nama, tembang- tembang yang pernah dinyanyikan nenek-nenek kita dulu waktu menumbuk padi, juga tidak ada.”

‎Ia tidak betah tinggal di kota itu, bukanlah disebabkan karena benci. Ia tidak betah karena kosong. Kosong karena selalu gagal bertemu dengan inspirasi.

‎Setiap kali Ia menulis, yang Ia rasakan seperti menulis kata – kata dan syair di atas air. Setiap bait yang Ia buat juga tidak punya tanah untuk berpijak.

‎Di kota itu tdak ada aroma wangi dupa, tidak ada nama gunung yang dikeramatkan, tidak ada dialek yang bisa Ia selipkan di sela -sela dialog dalam karya fiksinya.

‎Kota itu menolak diingat. Karena tahun ini bangunannya dibongkar, tahun depan mengganti nama jalan. Setiap tahun,  nama pendoponya juga selalu berganti.

‎Teman-temannya bilang, “Ya sudah pindah saja kalau tidak suka.”
‎Ia mengangguk. Ia pindah ke kota  Adab.

‎Di kota Adab, trotoarnya retak.  Namun, pada tiap retakannya memiliki cerita panjang nan penuh makna.  Tukang becak saja bisa bercerita tentang istana selama dua jam tanpa berhenti. Anak-anak masih hafal mainan tradisional.  Bahkan nama-nama gang yang bertebaran di sudut kota itu punya arti.

‎Ia mulai menulis lagi. Kali ini lebih deras dan lancar. Ia menulis tentang seonggok rindu pada tempat yang tidak pernah memberinya apa-apa untuk dirindukan.

‎Setiap kali orang bertanya kepadanya, “Kamu dari mana?”
‎Ia menjawab, “Kota tak bernama.”

‎”Kota tak bernama? Ada apa di sana?”

‎Ia cuma terdiam. Syahdan, mengembangkan senyuman.  “Tidak ada apa-apa. Oleh karenanya aku jadi penulis.”

‎Karena kadang, orang hanya jadi penulis ketika kampung halamannya tidak memberinya mitologi. Jadi Ia harus menciptakannya sendiri.

‎Sekarang Ia pulang setahun sekali. Lewat mall yang sama, jalan yang sama, spanduk yang sama. Dia tetap tidak betah. Namun Ia berterima kasih kepada kota tak bernama.

‎Karena jika seandainya kota tak bernama itu punya jati diri budaya yang kuat, mungkin Ia tidak akan pernah belajar cara bagaimana merindukan.

‎Merindukan kota yang telah bersaksi:  bahwa Ia telah dilahirkan dan dibesarkan di kota itu. Di kota tak bernama.


‎Malang, ujung 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berita Terkait

Respon Cepat Laporan Warga Kasat Samapta Polresta Banggai Bubarkan Balap Liar dan Mobil Parkir di Area Gelap Bandara
Hosnatun, sang Penjaga Tradisi Situbondo yang Bermodal Sosial dan Gotong – royong
Kapolsek Luwuk Sita 173 Botol Miras Berbagai Merek Dari MA Diamankan Kos kosan nya
Kadis DPMD Banggai Hasan Baswan Sosialisasikan SayaPeDesa Hadirkan Narasumber Rastono Sumardi Digitalisasi Kunci Pelayanan Desa Cepat dan Transparan
Dandim 1308/LB Letkol Inf Cepi Kartiwa Resmikan Jembatan Garuda Merah Putih Aramco Akses Warga Obo Balingara Kini Lebih Mudah
Wakili Bupati Banggai Kadinsos Hariadi Bola Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Dua Rumah di Desa Beringin Jaya
Kapolresta Banggai Kombes Pol Hendri Yulianto Pimpin Apel Perdana Tekankan Inovasi Profesionalisme dan Pelayanan Humanis
Gerak Cepat Kadis Sosial Banggai Hariadi Bola Salurkan Bantuan Korban Kebakaran Dua Rumah di Desa Beringin Jaya

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:47 WITA

Respon Cepat Laporan Warga Kasat Samapta Polresta Banggai Bubarkan Balap Liar dan Mobil Parkir di Area Gelap Bandara

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:25 WITA

Hosnatun, sang Penjaga Tradisi Situbondo yang Bermodal Sosial dan Gotong – royong

Minggu, 26 Juli 2026 - 07:34 WITA

Cerpen: “Penulis di Kota Tak Bernama”

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:38 WITA

Kapolsek Luwuk Sita 173 Botol Miras Berbagai Merek Dari MA Diamankan Kos kosan nya

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:48 WITA

Kadis DPMD Banggai Hasan Baswan Sosialisasikan SayaPeDesa Hadirkan Narasumber Rastono Sumardi Digitalisasi Kunci Pelayanan Desa Cepat dan Transparan

Berita Terbaru

Sastra Seni Budaya

Cerpen: “Penulis di Kota Tak Bernama”

Minggu, 26 Jul 2026 - 07:34 WITA