Suarautara.com, Banggai – Di pesisir Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, berdiri sebuah kawasan yang menjadi saksi pelestarian sejarah, budaya, dan peradaban Makassar. Kawasan itu adalah Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG), yang didirikan oleh akademisi dan budayawan Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH, Karaeng Patoto.
Balla Barakkaka bukan sekadar rumah adat, tetapi menjadi Kampung Adat, Budaya, dan Konstitusi yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur masyarakat Makassar melalui pendidikan budaya, pelestarian aksara Lontarak, hingga menjaga warisan ulama besar Nusantara, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari.
Setiap tamu yang datang disambut dengan tradisi khas berupa umba-umba atau klepon yang langsung disuapkan oleh Karaeng Patoto. Tradisi itu melambangkan doa agar setiap tamu memperoleh kehidupan yang damai, bahagia, dan sejahtera.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Umba-umba menjadi simbol kehidupan. Seperti adonan yang tenggelam saat mentah dan muncul ke permukaan ketika matang, manusia juga diharapkan mampu bangkit menuju kehidupan yang lebih baik,” ujar Prof. Aminuddin Salle.
Selain melestarikan budaya, kawasan tersebut juga menjadi pusat dakwah melalui tindakan nyata. Salah satu buktinya adalah pembangunan Masjid Al-Amin yang berdiri di atas lahan rawa yang sebelumnya menjadi lokasi sengketa keluarga dan tempat penjualan minuman tradisional. Setelah dibeli, lahan tersebut diubah menjadi rumah ibadah yang kini menjadi simbol perdamaian dan persatuan masyarakat.
Masjid Al-Amin mulai dibangun pada 1 Juli 2018 dan diresmikan pada 27 Oktober 2019. Pembangunannya berlangsung berkat dukungan masyarakat yang bergotong royong memberikan bantuan dan donasi.
Di Balla Barakkaka, setiap pengunjung juga diajak mengenal aksara Lontarak Makassar. Bahkan tamu dari Malaysia, Filipina hingga pejabat pemerintah diwajibkan menuliskan namanya menggunakan aksara Lontarak sebelum meninggalkan kawasan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Tak jauh dari lokasi BBrG terdapat Situs Tungku Katoknokang, peninggalan sejarah maritim yang menjadi bukti hubungan dagang masyarakat Galesong dengan Australia sejak ratusan tahun silam. Dari lokasi inilah teripang diolah sebelum dikirim ke Tiongkok, menjadikan Galesong sebagai bagian penting jalur perdagangan internasional pada masanya.
Prof. Aminuddin Salle menilai situs tersebut memiliki nilai historis tinggi karena menjadi simbol hubungan persahabatan antara masyarakat Makassar dengan bangsa Aborigin di Australia.
Pembahasan mengenai sejarah kemudian berlanjut pada sosok Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari, ulama besar asal Gowa yang dikenal sebagai pejuang Islam dan tokoh anti-penjajahan hingga Afrika Selatan.
Dalam diskusi budaya di BBrG, salah seorang keturunan Syekh Yusuf, Muh. Hijaz Daeng Temba, mengisahkan perjalanan hidup Syekh Yusuf berdasarkan arsip keluarga. Ia menjelaskan bahwa Muhammad Yusuf sejak kecil telah menimba ilmu agama di Bontoala dan Cikoang sebelum menjadi ulama besar yang menyebarkan Islam ke berbagai negara.
Tahun 2026 menjadi momentum penting karena bertepatan dengan peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf al-Makassari. Momen tersebut dimanfaatkan para akademisi, budayawan, dan sastrawan untuk mendorong digitalisasi naskah, penulisan buku, puisi, serta penelitian mengenai pemikiran dan perjuangan Syekh Yusuf agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Prof. Aminuddin Salle juga berharap naskah-naskah kuno peninggalan Syekh Yusuf tidak hanya dijadikan pusaka keluarga, tetapi juga menjadi pustaka yang dapat dipelajari masyarakat luas melalui proses dokumentasi dan literasi.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya melestarikan budaya dan sejarah, Pemerintah Kabupaten Takalar pada 2018 memberikan penghargaan kepada Prof. Aminuddin Salle atas dedikasinya membangun kebudayaan di daerah tersebut.
Melalui Balla Barakkaka ri Galesong, Prof. Aminuddin Salle membuktikan bahwa menjaga sejarah bukan hanya merawat bangunan tua, tetapi juga merawat ingatan kolektif bangsa agar warisan budaya, nilai-nilai Pancasila, dan perjuangan Syekh Yusuf tetap hidup sepanjang zaman.(AM’oks69)

























