Oleh : Suryadi |Wartawan Senior, Tinggal di pinggiran Kabupaten Bondowoso
Seseorang yang enggan berdiskusi berarti bodoh. Agak ekstrim memang. Sebab ia tidak mampu melihat manfaat diskusi bagi kelangsungan karir dan pengembangan reputasinya.
Di era sekarang ini mungkin tidak ada seseorang yang begitu bodohnya sehingga menolak ajakan untuk berdiskusi. Tidak terdapat kejelekan dalam diskusi, kecuali kebaikan.
Diskusi jangan hanya dipahami sebagai kegiatan formal di sebuah gedung dan menelan biaya besar. Diskusi bisa dilakukan di mana saja, dan kapan saja tidak harus mengeluarkan banyak biaya. Sering kita terkooptasi oleh pikiran bahwa diskusi itu identik dengan seminar, lokakarya, semiloka, dan sebagainya. Pikiran semacam ini cenderung menimbulkan keengganan, apalagi bagi mereka yang tidak menyukai suasana formal.
Diskusi, kita tahu bersama lebih luas dari itu pemahamannya. Sedangkan diskusi bisa berupa debat kusir, tukar pendapat atau cuma ‘ curhat ‘ antar teman sejawat yang dilakukan di warung kopi pinggir jalan yang murah meriah. Atau saat main catur ditemani sepiring singkong goreng. Diskusi tidak harus formal tetapi juga bisa bersifat informal. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk terlibat dan melibatkan diri dalam berdiskusi.
Diskusi bermanfaat besar dalam merumuskan sesuatu dan membuat gagasan-gagasan baru demi kemajuan bersama. Ada saatnya seorang atasan merasa suntuk bekerja seharian dan tiba-tiba mengalami jalan buntu tidak dapat memecahkan sebuah persoalan yang rumit. Satu-satunya cara untuk menjernihkan pikirannya adalah dengan cara mengajak diskusi atau sederhananya ngobrol dengan bawahannya atau rekan sejawat yang sama-sama satu profesi. Siapa tahu ada masukan baru yang belum terpikirkannya selama ini.
Diskusi bukan sekedar untuk sharing pendapat, jauh lebih dari itu diskusi akan merekatkan tali kerjasama. Tanpa disadari, akan timbul ikatan-ikatan yang akan mengakrabkan kedua belah pihak.
Ikatan yang tumbuh tanpa disadari dan dilandasi oleh kepentingan yang sama biasanya lebih bertahan lama dan lebih menyentuh. Dibanding dengan diskusi formal yang diadakan di gedung-gedung mewah yang usai acaranya, usai pula semuanya tanpa berkelanjutan.
Agama Islam sebagai agama yang rahmatan al ‘alamin yakni satu satunya agama yang diridhoi Allah SWT. Sedangkan menganut ajaran Islam bukan hanya berbicara soal keyakinan belaka, namun agama Islam merupakan suatu ideologi. Islam merupakan agama dakwah, artinya menyeru dan mendorong pemeluknya untuk senantiasa menyebarluaskan dan menyiarkan agama Islam ke seluruh umat manusia.









