Mahasiswa Seni Universitas Negeri Malang Meneliti Tari Topeng Carokkak di Sanggar Wahana Puspa budaya, Asuhan Cak Tutun

Sabtu, 8 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pagi  menggantung di pendopo sanggar wahana Puspa Budaya, sanggar seni tari asuhan Hosnatun yang kerap disapa Cak Tutun, Sabtu, (8/8/2026). .  Tampak dua anak muda, mereka adalah mahasiswa sedang mewawancarai cak Tutun tentang seni tari topeng carokkak.

‎Di hadapan mereka duduk Hosnatun.. Di pangkuannya ada topeng kayu tua, retak di pipi kiri, cat merahnya sudah pudar seperti darah yang lama mengering.

‎“Pak,” buka Fahmi, mahasiswa Tari semester 7 Universitas Negeri Malang (UNM),  suaranya hati-hati. “Kami datang ke sanggar seni wahana Puspa budaya ini, ingin bertanya tentang Tari Topeng Carokkak.”

‎Hosnatun mengusap topeng itu dengan ibu jari. Geraknya lambat, seperti menyapa orang lama.

‎“Carokkak,” gumamnya. “Kalian menyebutnya tarian. Di kampung saya, kami menyebutnya doa yang dipaksa jalan. Dan arti secara filosofis, “carokkak” adalah sepotong hati yang terluka,” jlentreh Cak Tutun.

‎Pendopo sanggar seni wahana Puspa Budaya rampak mendadak sunyi. Hosnatun menambahkan,

‎“Carokkak itu bukan sekadar gerak patah-patah, Nak,” lanjut Hosnatun. “Dulu, waktu paceklik, laki-laki desa tidak punya sawah. Mereka jadi carok. Berantem demi setangkai padi. Topeng ini dipakai supaya malu tidak kelihatan. Yang kelihatan cuma amarah.”

‎Ia mengangkat topeng ke wajah. Seketika rahangnya mengeras. Bahunya naik-turun. Kakinya menghentak lantai sekali. Bukan tarian yang indah. Kasar. Patah. Seperti orang yang menahan tangis tapi memilih meludah.

‎Dua mahasiswa itu tidak bertepuk tangan. Mereka menahan napas.

‎“Dulu Carokkak dilarang,” kata Hosnatun sambil menurunkan topeng. “Katanya memprovokasi. Tapi kami tetap menari di lumbung kosong, saat bulan mati. Karena kalau tidak ditari, dendam itu tinggal di dada. Dan dada manusia kalau penuh dendam, bisa meledak.”

‎“Berarti Carokkak itu protes, Pak?” tanya mahasiswa itu lagi.

‎Hosnatun mengangguk. “Protes yang tidak pakai kata. Tubuh yang bicara. Topeng yang menangis. Musik kendang yang seperti jantung dikejar utang.”

‎Fahmi lalu bertanya pelan: “Sekarang masih boleh diajarkan di kampus?”
‎Hosnatun tersenyum. Garis di sudut matanya dalam.

‎“Boleh. Asal kalian tidak hanya meniru geraknya. Tiru juga lukanya. Tiru juga alasannya kenapa orang dulu harus bertopeng untuk jujur.”

‎Pagi merambat perlahan lalu bergegas, berganti siang. Wawancarapun selesai bukan dengan salam, tapi dengan hening. Fahmi dan temannya menutup kameranya.  Di halaman terakhir ia menulis: _“Topeng Carokkak tidak menyembunyikan wajah. Ia membuka sejarah.”

‎Sebelum pulang, Hosnatun menitipkan satu kalimat:
‎“Kalau kalian menarikan Carokkak di panggung megah, ingat. Dulu tarian ini lahir di tanah yang retak. Jangan biarkan panggung membuat kalian lupa dengan retaknya.”

‎Topeng itu kembali ke pangkuan Hosnatun. Cat merahnya pudar, tapi sorotnya belum padam.

‎Mahasiswa asli kelahiran Situbondo, Jawa Timur yang bernama lengkap Fahmi Izzah Al Fitrah itu kepada media online ini mengatakan bahwa, selain meneliti tentang seni tari topeng carokkak, Fahmi dan rekannya juga berupaya meneliti jati diri budaya Situbondo.

‎”Saya mahasiswa dari program pendidikan atau prodi seni pada universitas negeri Malang.  Dan sejak kecil saya sangat tertarik dengan dunia seni lalu, mengapa saya tertarik dengan pak Hosnatun sebagai salah satu tujuan pilihan saya, saya juga lahir dan besar di Situbondo, untuk itu saya sedang meneliti tentang bagaimana jati diri budaya Situbondo dan mengembangkan budaya yang ada di Situbondo dengan cara saya bertanya – tanya kepada para maestro di Situbondo ini, ya pak Hosnatun ini,” papar Fahmi, Sabtu, tanggal 8 Agustus 2026.

‎Fahmi juga menambahkan bahwa,

‎”Saya kenal dan tahu tentang pak Hosnatun karena saya juga pernah latihan tari dan karawitan di sanggar ini,” pungkas Fahmi.

‎Dua anak muda itu pulang membawa lebih dari catatan. Mereka pulang membawa makna bahwa setiap gerak ada sejarah, dan setiap sejarah ada orang yang pernah bertaruh nyawa untuk menarinya.

Berita Terkait

Polres Situbondo Gelar Doa Bersama dan Santuni Anak Yatim di Hari Ulang Tahun Lalu Lintas Bhayangkara ke 71
Wakili Danramil 1308-09/LB Babinsa Hadiri Musrenbang Desa Minanga Bahas Penetapan Prioritas RKPDes 2027
Gerak Cepat Kadinsos Banggai Haryadi Bola Urus Jenazah Yuda Warga Tanpa Keluarga hingga Dimakamkan di TMB
Anggota Polsek Luwuk Fasilitasi Mediasi Dugaan Pencurian Ringan Kedua Pihak Sepakat Berdamai
Dua Titik Karhutla Terjadi Bersamaan di Bangketa Polsek Nuhon Bergerak Padamkan Api
Polresta Banggai dan Lapas Luwuk Gelar Razia Gabungan 25 Warga Binaan Jalani Tes Urine
Dugaan Pencurian Sapi di Tetesulu Terungkap Polsek Nuhon Amankan Terduga Pelaku
Evaluasi Penyaluran LPG 3 Kg Babinsa Kelurahan Bungin Kawal Pembahasan Agen Pangkalan dan Masyarakat

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 19:38 WITA

Polres Situbondo Gelar Doa Bersama dan Santuni Anak Yatim di Hari Ulang Tahun Lalu Lintas Bhayangkara ke 71

Selasa, 22 September 2026 - 17:44 WITA

Wakili Danramil 1308-09/LB Babinsa Hadiri Musrenbang Desa Minanga Bahas Penetapan Prioritas RKPDes 2027

Selasa, 22 September 2026 - 15:51 WITA

Gerak Cepat Kadinsos Banggai Haryadi Bola Urus Jenazah Yuda Warga Tanpa Keluarga hingga Dimakamkan di TMB

Senin, 21 September 2026 - 23:16 WITA

Anggota Polsek Luwuk Fasilitasi Mediasi Dugaan Pencurian Ringan Kedua Pihak Sepakat Berdamai

Senin, 21 September 2026 - 22:49 WITA

Dua Titik Karhutla Terjadi Bersamaan di Bangketa Polsek Nuhon Bergerak Padamkan Api

Berita Terbaru