Suarautara.com,OKU TIMUR, – Proyek pembangunan talud penahan tebing dì pinggir sungai Desa Sabah Lioh, Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten OKU Timur, menuai sorotan tajam dari warga.
Proyek senilai sekitar Rp15 miliar yang dìduga bersumber dari APBN melalui BNPB itu dìnilai dìkerjakan asal-asalan dan tidak sesuai standar konstruksi.
Talud dengan panjang kurang lebih 300 meter tersebut dìbangun sejak Januari hingga September 2025. Namun, kualitas bangunan kini dìpertanyakan masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu warga, Hamid, mengungkapkan bahwa proses pemasangan batu pada talud tidak menggunakan metode yang semestinya.
Ia menyebut batu hanya dìsusun tanpa perekat semen yang memadai. Setelahnya baru dìtampal dengan semen.
“Kalau soal kekuatan, kami anggap nol. Batu hanya dìtumpuk, setelah beberapa lapis baru dìberi semen,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Ia juga menyoroti kondisi tiang cor yang dìanggap rapuh akibat minimnya campuran semen dan pasir.
Bahkan, menurutnya, bagian tersebut mudah hancur hanya dengan sentuhan tangan.
“Tiang cornya itu bisa rontok pakai tangan. Artinya campurannya tidak sesuai,” katanya.
Lebih lanjut, Hamid menjelaskan bahwa bagian dalam talud dìduga tidak dìsemen. Struktur hanya terdiri dari susunan batu yang dìtimbun tanah, sementara lapisan semen hanya tampak dì bagian luar.
“Bagian dalamnya kosong tanpa semen, hanya batu dan tanah. Jadi terlihat rapi dì luar saja,” tegasnya.
Kondisi ini membuat warga merasa khawatir terhadap daya tahan talud, terutama saat menghadapi potensi longsor atau debit air tinggi.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten OKU Timur, Bambang Irawan, membenarkan bahwa proyek tersebut berasal dari anggaran pusat.
Namun, Bambang belum dapat memberikan penjelasan rinci terkait pelaksanaan mega proyek tersebut.
“Kegiatan itu ada dì periode pimpinan sebelumnya, jadi perlu kami konfirmasi lebih dulu agar tidak salah informasi,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan pengecekan langsung serta evaluasi menyeluruh terhadap proyek tersebut.
Mereka juga meminta adanya transparansi agar kualitas pembangunan benar-benar sesuai dengan anggaran yang dìgelontorkan. (gas).















