Laki-laki dalam Patriaki, dan Harmonisasi Hubungan

Selasa, 10 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Kalvin Karanda, S.IP

Patriarki adalah perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial yang bisa muncul karena persepsi produktif dan reproduktif terhadap perempuan dan laki-laki.

Dalam buku “Perempuan, Masyarakat Patriarki & Kesetaraan Gender” oleh Lusia Palulungan dkk, dalam sistem budaya dan sosial sebagian besar masyarakat Indonesia, perempuan dipersepsikan dan ditempatkan semata-mata berfungsi reproduktif.
Dari persepsi tersebut, perempuan dianggap hanya bisa berada di rumah untuk melanjutkan keturunan dan mengasuh anak sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah yang dikategorikan sebagai pekerjaan domestik yang hanya bisa dibebankan atau dilakukan oleh perempuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, laki-laki dipersepsikan dan ditempatkan berfungsi produktif, sebagai pencari nafkah di ruang publik yang dianggap bertanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan rumah tangga.

Sebagai pencari nafkah dan kepala rumah tangga, laki-laki menyandang status sbagai bapak di dalam keluarga, yang tak jarang ditempatkan sebagai penguasa di dalam keluarga. Budaya patriarki seperti ini tidak hanya berhenti di dalam keluarga atau rumah, namun juga menjadi budaya masyarakat dan bernegara. Budaya ini tersosialisasi dalam masyarakat karena mendapat legitimasi dari berbagai aspek kehidupan, baik agama maupun bernegara. Tak hanya menutup partisipai perempuan di ruang publik, tetapi juga menyebabkan lahirnya berbagai tindakan diskriminasi dan dan ketidakadilan gender terhadap perempuan.

Suatu sore,di Kota Manado, saya di ajak seorang teman untuk minum kopi dan menghabiskan berbatang-batang rokok sambil menikmati keindahan pantai di akhir pekan. Suasanapun semakin membuat kami berpikir dan berdiskusi tentang masa depan. Mulai dari pekerjaan, percintaan, hingga investasi. Karena teman saya sebentar lagi akan menikah pada satu kesempatan Pembahasan kami terfokus pada investasi, Sempat menyebut beberapa produk investasi dan akhirnya terbitlah ucapan mengenai rumah. Teman saya mengatakan bahwa sudah saatnya dia berpikir untuk mulai mengumpulkan uang muka rumah selayaknya seorang lelaki harus memikirkan persiapan rumah jika nanti menikah. Sempat terucap olehnya dalam dialog manado: “ngana qwa sedap boleh kase abis doi for kasana kamari mendaki ato ba pontar kamana, nda perlu ba pikir for beli rumah,karna ngana kan belum ada pasangan”.

Itu merupakan kalimat menyinggung sekaligus motivasi buat saya, agar secepatnya memiliki pasangan dan menjalani hubungan yang lebih serius. Heheheheheheee 😀
Sayapun tidak langsung merespons dengan marah layaknya seorang radikal. Saya mencoba memancingnya untuk berpikir: “Sadarkah kita bahwa hal tersebut merupakan tuntutan sosial yang diciptakan oleh masyarakat sendiri padahal laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja?”.

Kemudian dia juga mengungkapkan hal yang sama. Mengapa laki-laki seolah-olah mendapatkan tekanan lebih secara ekonomi dan posisi kekuasaan. Saya kemudian memperkenalkan istilah patriarki yang menghasilkan tekanan aneh tersebut dan lihatlah bahwa patriarki tak melulu merugikan perempuan sebagai pihak yang diklaim inferior, nyatanya kaum superior pun merasakan hal yang sama. Mengenai rumah, siapa pun berhak untuk mempunyai rumah selaku bagian dari kebutuhan primer manusia bukan karena jenis kelaminnya.

Setiap manusia tentunya ingin memiliki tempat tinggal dan sampai hari ini saya belum pernah menemukan brosur kredit rumah yang menuliskan syarat “Pemilik harus laki-laki”.

Sesungguhnya patriarki menjadi alat penekan bagi para laki-laki lajang yang juga masih berjuang untuk membayar sewa kamar, tagihan kartu kredit, cicilan motor, makan, dan nongkrong akhir pekan, ditambah pula dengan tekanan mempunyai rumah sebelum menikah. Jika memang niat memiliki rumah datang dari kesadaran pribadi, tentunya sangat baik. Akan tetapi betapa malangnya jika keinginan itu muncul dari tekanan sosial keluarga ataupun pacar.

Di lain pihak, di media sosial banyak sekali meme yang kurang lebih menyatakan bahwa laki-laki harus mampu secara finansial supaya perempuan dapat menikmatinya untuk berbelanja. Para perempuan pun dengan semangat menyebarkan meme tersebut, mungkin memotivasi para lelaki untuk bekerja lebih keras karena katanya gaji perempuan sendiri tidak akan pernah cukup bila hasrat berbelanja itu muncul. Perempuan dianalogikan sebagai makhluk penyedot uang dan penagih jalan-jalan padahal para perempuan juga mampu membeli barang impiannya dengan uang sendiri dan jalan-jalan dengan biaya pribadi.

Lihatlah bahwa patriarki memunculkan banyak tekanan dan standar sehingga sebagai manusia tidak perlu kita tambahi dengan tuntutan ini itu. Segala sesuatu bisa dinegosiasikan dan disepakati, silakan berbagi peran dan tak perlu saling menekan atau menyalahkan. Jika ingin setara maka perlakukanlah laki-laki dan perempuan sama baiknya seperti halnya ketika berbagi peran untuk membayar tiket bioskop dan makan malam di akhir pekan. Bayarlah karena anda memang mempunyai uang dan niat untuk mentraktir pasangan atau teman bukan karena tekanan patriarki.

Ketahuilah bahwa Harmonisasi suatu hubungan itu bukan tentang siapa yang bertugas dan bertanggung jawab, tetapi siapa yang bisa memenuhi kebutuhan masing-masing dan saling mengisi kekosongan.

 

(** Penulis adalah Aktivis GMNI Manado)

Berita Terkait

Hj. Dalima Hangan Laporkan RY 45 Tahun Dugaan Pemalsuan Data Autentik Sertifikat Tanah di Maahas ke Polresta Banggai
Gubernur Anwar Hafid dan Bupati Buol Groundbreaking KNMP di Desa Tamit
Pererat Silaturahmi dengan Ketua PWI Kajari Banggai Akbar Tegaskan Terbuka terhadap Kritik Disertai Bukti dan Laporan
Kejari Banggai Akbar dan Jajaran Unsur Forkopimda Laksanakan Pemusnahan Barang Rampasan dari 23 Perkara yang Telah Inkracht
Kapolda Sulteng Irjen Pol Nasri  Resmikan Polresta Banggai dan Polres Banggai Laut Pesan  Pastikan Negara Hadir di Tengah Masyarakat
Segera Ambil Langkah Tegas Kepala BGN Tetapkan SPPG Kanali Suspend II Polres Bangkep Periksa Seluruh Perangkat Usai Kasus Keracunan MBG
51 Warga Terdampak Dugaan Gangguan Kesehatan MBG Bupati Rusli Moidady dan Wabup Serfi Kambey Turun Langsung
PSDKU Untad Buol Mulai Perkuliahan Perdana, 46 Mahasiswa Ikuti Program RPL
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 14:38 WITA

Hj. Dalima Hangan Laporkan RY 45 Tahun Dugaan Pemalsuan Data Autentik Sertifikat Tanah di Maahas ke Polresta Banggai

Rabu, 26 Agustus 2026 - 04:04 WITA

Gubernur Anwar Hafid dan Bupati Buol Groundbreaking KNMP di Desa Tamit

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:54 WITA

Pererat Silaturahmi dengan Ketua PWI Kajari Banggai Akbar Tegaskan Terbuka terhadap Kritik Disertai Bukti dan Laporan

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:29 WITA

Kejari Banggai Akbar dan Jajaran Unsur Forkopimda Laksanakan Pemusnahan Barang Rampasan dari 23 Perkara yang Telah Inkracht

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:47 WITA

Kapolda Sulteng Irjen Pol Nasri  Resmikan Polresta Banggai dan Polres Banggai Laut Pesan  Pastikan Negara Hadir di Tengah Masyarakat

Berita Terbaru

Nasional

Gus Lilur Tantang Empat Tokoh di Arena Muktamar NU

Rabu, 26 Agu 2026 - 16:25 WITA