Suarautara.com, Malang— Rencana pertandingan sarat rivalitas antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan memicu reaksi keras keluarga korban Tragedi Kanjuruhan.
Mereka menilai agenda pertandingan tersebut berpotensi mengusik memori kelam yang hingga kini masih membekas kuat.
Penolakan disampaikan melalui aksi doa bersama yang digelar Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) di Gate 13 stadion, lokasi yang menjadi salah satu titik paling dikenang dalam tragedi kemanusiaan tersebut. Aksi berlangsung khidmat dengan dihadiri keluarga korban dan elemen mahasiswa yang menyuarakan empati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua YKTK, Devi Atok, menegaskan bahwa penggunaan stadion untuk laga berisiko tinggi belum tepat dilakukan dalam waktu dekat.
“Kami tidak menolak sepak bola, tetapi kami menolak jika pertandingan berisiko tinggi digelar di tempat yang masih menyimpan luka mendalam. Perasaan keluarga korban harus dihormati,” ujarnya dengan nada tegas, Jum’at (3/4/2026).
Dukungan solidaritas datang dari mahasiswa Universitas Brawijaya yang ikut hadir dalam aksi tersebut. Mereka membentangkan poster berisi pesan moral agar tragedi kemanusiaan tidak dilupakan dan proses pemulihan psikologis korban tetap menjadi prioritas.
Selain menggelar doa, perwakilan YKTK juga mendatangi Polres Malang guna menyerahkan surat penolakan resmi.
Tiga poin utama disampaikan, yakni trauma yang belum pulih, perlunya empati penyelenggara, serta potensi gangguan keamanan jika pertandingan tetap dipaksakan digelar di stadion yang memiliki sejarah kelam.
Menurut Devi Atok, laga antara Arema FC dan Persebaya Surabaya memiliki tensi rivalitas tinggi sehingga dikhawatirkan memicu tekanan emosional baru bagi keluarga korban.
“Kami berharap ada kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai pertandingan justru memperpanjang penderitaan keluarga korban,” katanya.
Informasi yang berkembang menyebutkan sejumlah aparat keamanan yang pernah bertugas saat tragedi juga masih merasakan dampak psikologis. Hal tersebut dinilai menjadi pertimbangan penting sebelum menetapkan lokasi pertandingan.
Saat ini jadwal pertandingan masih tercatat akan berlangsung pada 28 April 2026. Namun meningkatnya penolakan publik membuat keputusan akhir dinilai harus mempertimbangkan aspek kemanusiaan, keamanan, serta sensitivitas keluarga korban agar situasi tetap kondusif. (***)
Reporter: Akhmad Suseno.















