Suarautara.com, Banggai – Bukan sekadar melihat program dari balik meja. Sekitar 25 jurnalis dari berbagai perusahaan pers di Kabupaten Banggai turun langsung ke lokasi program pemberdayaan masyarakat desa kaya kecamatan Batui selatan Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF), Jumat (2/10/2026).
Rombongan Media Visit yang turut dihadiri Ketua PWI Banggai Abdul Saleh tersebut mendatangi dua kelompok binaan Pertamina EP DMF. Para jurnalis melihat langsung bagaimana program dijalankan, dikelola masyarakat, hingga mulai memberikan manfaat ekonomi bagi penerima.
Dua lokasi yang menjadi tujuan yakni Kelompok Usaha Bersama (KUB) Ayam Ternak Lestari dan Kelompok Tani Mosaangu yang terletak di desa kaya dengan mengembangkan komoditas jagung.
Perwakilan Pertamina EP DMF, Fuad Rafif Prasetyo, mengatakan kunjungan tersebut menjadi ruang bagi insan pers untuk melihat secara langsung proses pemberdayaan sekaligus mendengar pengalaman dari masyarakat penerima manfaat.
Tempat pertama yang kita kunjungi adalah lokasi ternak ayam petelur program PPM Pertamina. Nanti penerima manfaat akan menjelaskan langsung bagaimana program ini berjalan dan manfaat yang mereka rasakan,” ujar Fuad.
Menempuh Medan Gunung dan Lembah
Perjalanan menuju lokasi binaan bukan tanpa tantangan. Rombongan harus melewati akses jalan yang cukup sulit, kawasan perbukitan hingga lembah sebelum tiba di lokasi kelompok penerima manfaat.
Bagi Pertamina EP DMF, kondisi medan tersebut menjadi bagian dari realitas pendampingan masyarakat di lapangan.
Perjuangan kami sampai di sini melewati gunung dan lembah. Tetapi memang seperti itu komitmen kami dalam pemberdayaan masyarakat. Apapun jalannya, kami coba hadapi,” kata Fuad.
200 Ayam Petelur Mulai Berproduksi
Di lokasi pertama, rombongan melihat langsung aktivitas KUB Ayam Ternak Lestari yang mengembangkan usaha ayam petelur.
Kelompok tersebut mulai dikembangkan melalui program pemberdayaan masyarakat Pertamina EP DMF sejak 2025 dan kini memiliki enam anggota aktif.
Salah satu penerima manfaat, Joni, menjelaskan kelompoknya menerima sebanyak 200 ekor ayam petelur pada 1 Mei 2026.
Setelah melalui proses pemeliharaan dan pendampingan, ayam-ayam tersebut kini telah memasuki masa produksi.
“Sekarang ayam sudah berumur sekitar 33 minggu dan sudah bertelur. Program ini sangat membantu perekonomian kelompok dan menjadi bagian dari usaha masyarakat,” jelas Joni.
Dari 200 ekor ayam yang diterima, sekitar 184 ekor masih bertahan dan terus berproduksi.
Telur yang dihasilkan sementara dipasarkan di wilayah sekitar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan warung makan.
Menariknya, produksi kelompok tersebut disebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Untuk pemasaran kami masih secara lokal. Kebutuhan sebenarnya masih kurang, bahkan ada warung makan yang membutuhkan telur setiap hari,” ungkap Joni.
Selain telur, kelompok juga mulai melihat potensi pengembangan usaha lainnya, termasuk pemanfaatan kotoran ayam sebagai bagian dari pengembangan usaha dan sumber pendanaan kelompok ke depan.
Bukan Sekadar Bantuan, Targetnya Kemandirian
Di balik kandang ayam, Pertamina EP DMF menekankan bahwa program pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian bantuan.
Fuad menjelaskan, masyarakat penerima manfaat didorong terlibat sejak proses pengelolaan hingga pengambilan keputusan agar kelompok mampu berkembang secara mandiri.
Kata kunci pemberdayaan adalah kemandirian. Karena itu kami juga mendorong leadership dari penerima manfaat untuk bisa memimpin kelompoknya agar berkembang,” jelas Fuad.
Dukungan yang diberikan mencakup sarana dan prasarana, peningkatan kapasitas kelompok, pendampingan teknis pengelolaan kandang, pakan hingga perhatian terhadap kesehatan ayam.
Menurut Fuad, kualitas pakan dan kesehatan ternak menjadi dua faktor penting yang berpengaruh terhadap produktivitas ayam petelur.
“Pakan yang sehat dan ayam yang sehat akan menghasilkan produksi telur yang baik,” katanya.
Ia menegaskan, dukungan perusahaan bukan dimaksudkan untuk membuat kelompok bergantung kepada Pertamina.
Yang kami berikan sifatnya rangsangan. Harapannya kelompok bisa berpikir kritis, kreatif dan berinovasi untuk mencapai kemandirian,” tambahnya.
Belajar dari Trial and Error
Pengembangan usaha ayam petelur juga tidak langsung berjalan mulus.
Keterbatasan pengetahuan awal anggota menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Proses pembelajaran dilakukan melalui pendampingan teknis dan pengalaman langsung di lapangan.
Dari sisi memelihara ayam, pengetahuan awal memang masih sangat terbatas. Jadi proses trial and error terjadi. Tetapi alhamdulillah, sekarang kelompok sudah semakin memahami bagaimana pengelolaan ternak dengan baik dan teratur,” ujar Fuad.
Aspek kesehatan ternak juga terus menjadi perhatian melalui pendampingan dan penguatan pengetahuan teknis bagi anggota kelompok.
Dari Kandang Ayam Bergeser ke Lahan Jagung
Usai melihat aktivitas KUB Ayam Ternak Lestari, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju kelompok binaan lainnya.
Kali ini, para jurnalis mendatangi Kelompok Tani Mosaangu yang bergerak di sektor pertanian jagung.
Kelompok tersebut diketuai Beni Irawan dan beranggotakan 26 orang.
Di lokasi, jurnalis melihat langsung lahan pengembangan jagung yang disiapkan dalam program pemberdayaan Pertamina EP DMF. Luas lahan yang dikembangkan mencapai sekitar satu hektare dan seluruhnya ditanami jagung.
Beni menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan. Menurutnya, program tersebut membantu anggota kelompok mengembangkan usaha pertanian sekaligus menopang perekonomian keluarga.
Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan ini. Hasil panen jagung bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarga,” ujar Beni.
Media Melihat Langsung Dampak Program
Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada para jurnalis untuk melihat secara langsung perjalanan program pemberdayaan masyarakat Pertamina EP DMF.
Bukan hanya mengenai bentuk bantuan, tetapi juga bagaimana masyarakat mengelola bantuan tersebut, menghadapi tantangan, mengembangkan usaha dan mulai membangun kemandirian ekonomi.
Media Visit sekaligus menjadi ruang komunikasi langsung antara perusahaan, penerima manfaat dan insan pers.
Dari kandang ayam hingga hamparan jagung, program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada penyerahan bantuan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kelompok mampu mengelola usaha, menjaga produktivitas, memperluas pasar dan pada akhirnya berdiri dengan kekuatan ekonomi sendiri.
Melalui pendampingan berkelanjutan, Pertamina EP DMF mendorong kelompok penerima manfaat agar tidak hanya menjadi penerima program, tetapi berkembang menjadi pelaku usaha yang mampu mengelola potensi ekonomi di wilayahnya.(AM’oks69).











