Suarautara.com, Banggai – Memasuki satu dekade perjalanan, Festival Sastra Banggai kembali menegaskan perannya sebagai ruang pelestarian budaya, penguatan literasi, dan pengembangan jejaring sastra di tingkat nasional maupun internasional.
Mengusung tema ” Layar ke 10 yang Tak Pernah Kuncup ” Festival Sastra Banggai 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Sepuluh tahun perjalanan festival ini menjadi gambaran bahwa gerakan kebudayaan dapat terus bertumbuh melalui kegelisahan, kolaborasi, serta kerja kolektif berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan sastra dan budaya.
Pembukaan festival membawa tiga pesan utama, yakni pentingnya menjaga kekayaan budaya lokal, memperkuat ekosistem sastra, serta memastikan keberlanjutan gerakan kebudayaan di tengah perkembangan zaman.
Mewakili Bupati Banggai, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, H. Mujiono, S.H., M.H., menyampaikan bahwa sastra memiliki peran penting dalam merekam perjalanan sejarah, menyampaikan gagasan, serta mewariskan identitas daerah kepada generasi mendatang.
Menurutnya, sastra tidak hanya hadir melalui karya tulis, tetapi juga tumbuh dalam bahasa, tradisi, cerita leluhur, dan pengalaman sehari-hari masyarakat.
Sastra hadir dalam bahasa yang kita gunakan, dalam tradisi yang kita warisi, dalam kisah para leluhur, serta dalam pengalaman sehari-hari masyarakat Kabupaten Banggai,” demikian petikan sambutan Bupati Banggai yang disampaikan Mujiono.
Pesan tersebut menegaskan bahwa sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dirawat agar nilai-nilai budaya lokal tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dukungan terhadap pengembangan sastra juga disampaikan melalui sambutan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.
Pemerintah pusat mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Festival Sastra Banggai yang mampu bertahan dan berkembang selama satu dekade.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya dukungan terhadap pengembangan talenta serta keberlanjutan penyelenggaraan festival sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan nasional.
Festival sastra dinilai bukan sekadar agenda pertunjukan, melainkan ruang pertukaran gagasan, distribusi karya, dan pembentukan jejaring antarkomunitas sastra.
Festival Sastra berkembang menjadi infrastruktur bagi pertukaran gagasan, sirkulasi karya, dan pembentukan jejaring sastra nasional maupun internasional,” demikian pesan dalam sambutan Menteri Kebudayaan.
Melalui program Penguatan Festival Sastra dan Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, dukungan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan tata kelola festival, memperluas jangkauan audiens, serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai festival dan komunitas sastra lainnya.
Sementara itu, Direktur Festival Sastra Banggai menegaskan bahwa perjalanan sepuluh tahun bukan sekadar pencapaian angka, melainkan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kegelisahan, percakapan, dan kerja bersama.
Keberlangsungan festival hingga tahun ke-10 menunjukkan adanya komitmen untuk terus menyediakan ruang bagi karya sastra, pertukaran pemikiran, dan perjumpaan antarkomunitas.
Sepuluh tahun perjalanan Festival Sastra Banggai ini bagi kami bukan sekadar angka. Ia lahir dari kegelisahan dan percakapan kami,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keberadaan Akademi Sastra Banggai yang kini memasuki tahun keempat. Program tersebut menjadi salah satu ruang pengembangan sastra yang diharapkan mampu mempererat persaudaraan masyarakat Banggai bersaudara melalui penerbitan buku dan penciptaan karya sastra.
Dalam kesempatan itu, Direktur Festival turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, Kementerian Kebudayaan, para kolaborator, relawan, komunitas, serta masyarakat yang telah berkontribusi menjaga keberlangsungan festival selama sepuluh tahun terakhir.
Menutup sambutannya, ia menegaskan tekad untuk melanjutkan gerakan kebudayaan dengan mengutip semangat penyair Wiji Thukul, “Kami percaya bahwa kami tetap ada dan berlipat ganda.”
Selama lima hari pelaksanaan, Festival Sastra Banggai 2026 menghadirkan ruang perjumpaan melalui cerita, diskusi, dan pertunjukan seni budaya.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi para pegiat sastra, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan karya sastra dan kekayaan tradisi lokal.
Momentum satu dekade ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat posisi Kabupaten Banggai dalam peta sastra Indonesia. Lebih dari itu, festival diharapkan mampu menjaga keberlanjutan ruang kreatif, memperluas kolaborasi, serta mendorong lahirnya generasi baru yang peduli terhadap literasi dan kebudayaan.
Melalui perjalanan panjang yang telah dilalui, Festival Sastra Banggai membawa pesan bahwa sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruang untuk merawat ingatan kolektif, mempertemukan gagasan, menjaga identitas, dan mempererat persaudaraan masyarakat.
Dengan semangat ” Layar ke 10 yang Tak Pernah Kuncup “, gerakan sastra di Banggai diharapkan terus tumbuh, berlayar melampaui batas daerah, dan memberikan kontribusi bagi perkembangan kebudayaan Indonesia.(AM’oks69).












